Header Ads

Breaking News
recent

Warcraft Lore - Arthas Menethil, The Lich King




My son, the day you were born, the very forests of Lordaeron whispered the name.. Arthas. – Terenas Menethil II


Intro

Arthas Menethil adalah salah satu karakter dalam dunia Warcraft, ceritanya hanya muncul dalam Warcraft 3: Reign of Chaos diteruskan melalui ekspansinya The Frozen Throne, lalu dilanjutkan kembali melalui World of Warcraft sampai ekspansi ketiganya: Wrath of the Lich King.

Arthas memiliki dampak yang besar dalam perkembangan dunia Azeroth termasuk salah satu biang kerok yang mengancam kedamaian dan sebagai macam hal lainnya. Karena semua tindakannya tersebut, Arthas adalah salah satu “nama” yang cukup besar dan paling memorable dalam dunia Warcraft termasuk komunitas – komunitas lainnya yang menjadikan Arthas sebagai salah satu icon Villain yang diakui sepanjang masa dalam dunia gaming.  

Lore

Arthas Menethil lahir dari pasangan Raja Terenas Menethil II dan Ratu Lianne Menethil penguasa kerajaan bernama Lordaeron, 4 tahun sebelum perang pertama muncul (manusia melawan orc) dan sekaligus merupakan anak paling bungsu dari pasangan tersebut. Sang pangeran yang masih muda tumbuh di waktu keadaan dimana Azeroth masih dilanda oleh perang, Alliance mulai runtuh, dan awan-awan hitam masih menghiasi cakrawala. Arthas disaat waktu muda ia berteman dengan Varian Wrynn dimana Varian akan menjadi Raja Stormwind di masa depan.

Ketika muda, Arthas dilatih oleh seorang Dwarf bernama Muradin Bronzebeard yang merupakan saudara dari Raja para Dwarf Magni Bronzebeard, berkat dirinya Arthas menjadi orang yang terampil dan tangguh dalam pertarungan. Selanjutnya Arthas berada dalam pengawasan sekaligus belajar dibawah Uther the Lightbringer, ia berhasil dan kemudian diangkat menjadi salah satu kesatria Silver Hand pada umur 19 tahun. Penobatan Arthas dilaksanakan di Catherdral of Light di dalam kota Stormwind, dan pada saat-saat penobatan itu juga Arthas diberikan sebuah gada atau palu yang diberi nama Light’s Vengeance.



Uther the Lightbringer

Ia juga memiliki kuda pertamanya yang ia sangat sayangi pemberian dari peternak Jorum dan Jarim dari peternakan Balnir. Arthas merasa bahwa kuda tersebut spesial dan merupakan takdir bahwa mereka akan bersama-sama saat pertama kali mereka bertemu di peternakan. Sama seperti kesatria lainnya yang ada di Lordaeron, ia harus memberi nama kudanya sendiri. Seperti Uther memberi nama kudanya Steadfast, ayahnya Terenas Menethil memiliki kuda bernama Courageous, dan Arthas memilih nama Invincible sebagai pilihan yang tepat untuk sahabat barunya. Namun sayangnya hal ini tidaklah berlangsung lama, Arthas di waktu luangnya berjalan-jalan mengelilingi kerajaan bersama dengan Invincible kuda kebanggannya disaat salju lebat turun di kerajaannya, dan tak ayal tragedi kemudian dialami oleh Arthas, ia dan Invincible mengalami kecelakaan saat kaki sang kuda terpeleset saat hendak meloncat. Kecelakaan tersebut membuat kedua kaki depan Invicible patah dan mengalami cedera parah. Teriakkan dan tangisan Invicible memecah keheningan malam yang penuh salju. Arthas harus membunuh sang kuda Invicible untuk mengakhiri penderitaannya. Kecelakaan tersebut selalu menghantui Arthas dan ia menyalahkan kecelakaan tersebut adalah kesalahan dirinya. Dari semenjak saat itu Arthas mulai bersumpah, siapapun dan apapun yang membutuhkan perlindungan meskipun membutuhkan sebuah pengorbanan yang besar ia akan melakukannya.

Menyampingkan sikapnya yang selalu tidak sabaran dan keras kepala, Arthas menjadi salah satu prajurit yang cukup terkenal pada masanya. Salah satu aksi heroiknya yang cukup terkenal adalah saat Arthas memukul balik sekelompok pasukan Troll yang menyerang Quel’Thalas (kota para Blood Elf) kembali ke kota asal mereka Zul’Aman (kota Troll).


Zul'aman Troll

Pada masa-masa tersebut Arthas bertemu dengan putri bungsu dari Daelin Proudmoore, wanita yang memiliki paras anggun dan menawan, Jaina Proudmoore. Selama bertahun-tahun, mereka tumbuh sebagai teman yang cukup dekat dan tentunya hubungan mereka pun semakin romantis setiap harinya, dan benih-benih cintapun tumbuh diantara mereka. Namun, Arthas mulai ragu dan mulai sering timbul pertanyaan – pertanyaan dalam benaknya apakah dirinya dengan Jaina sudah siap untuk hidup bersama. Karena bimbang, secara tiba-tiba Arthas mengakhiri hubungan mereka berdua agar Jaina bisa lebih fokus belajar sihir di Dalaran dan Arthas bisa lebih fokus terhadap komitmennya untuk melayani dan melindungi Kerajaannya Lordaeron. Tidak lama setelah itu, mereka berjanji satu sama lain bahwa mereka akan melanjutkan hubungan mereka kembali setelah selesai dengan urusannya masing-masing, namun janji tersebut dibuat pada masa dimana Scourage melakukan langkah awal untuk melancarkan invasi mereka terhadap Azeroth. Invasi para Scourage ini nantinya akan merubah takdir yang tidak pernah dibayangkan oleh Arthas atau Jaina untuk selamanya.



Jaina Proudmoore

Awal Perubahan, Kesatria dari Silver Hand

Wabah Undeath

Masalah demi masalah mulai melanda Lordaeron. Para Orc mulai bebas dari kamp yang membelengu mereka, dan ada kabar yang mulai mengkhawatirkan mengenai sebuah wabah yang telah mencengkram pada sebuah daerah di utara. Arthas dan Uther dikirim ke Strahnbrad untuk mempertahankan sebuah kota dari serangan para Orc. Sang pangeran berhasil mengalahkan naga hitam bernama Searinox yang kemudian diambil hatinya lalu diberikan kepada seorang dwarf bernama Feranor Steeltoe agar hati tersebut ditempa menjadi sebuah artifak yang berbentuk seperti bola dan memiliki magic api di dalamnya.  Arthas menggunakan artifak ini untuk mengalahkan salah seorang Blademaster atau gladiator dari klan Blackrock yang memimpin serangan para Orc di Strahnbrad.

Meskipun ancaman Orc sudah teratasi ternyata muncul ancaman yang lebih berbahaya dari pada Orc, yaitu wabah undeath mulai menyebar luas. Jaina dan Kapten Falric dikirim untuk bergabung dengan Arthas, yang saat ini sudah berumur 23 tahun, dengan perintah untuk menyelidiki wabah aneh ini lebih jauh. Mereka bertarung dengan pasukan mayat hidup di lumbung gandum yang sudah tercemar wabah. Pada saat itu mereka bertemu dengan seorang Necromancer bernama Kel’Thuzad di kota Brill dan mengejar sang Necromancer sampai ke Andorhal.

Kel’Thuzad sendiri telah berhasil mencemari gudang gandum di Andorhal dan mengirimnya ke desa-desa yang belum terjangkau. Sebelum Arthas membunuhnya, Kel’Thuzad berbicara kepada Mal’Ganis, seorang Demon dari Natherezim yang memimpin Scourge (pasukan Undead). Jaina dan Arthas bersama pasukan-pasukan lainnya melakukan perjalanan ke utara untuk menghadapi sang Demon di Stratholme.



Mal'ganis

Selama perjalanan, Arthas dan Jaina berhenti sejenak di desa bernama Hearthglen dimana mereka berharap bisa beristirahat disana. Bukan istirahat dan makanan hangat yang menyambut mereka, melainkan mereka mendapat peringatan bahwa pasukan Undead semakin mendekat. Arthas menyuruh Jaina untuk mencari Uther dan meminta bantuannya ketika dirinya beserta sisa pasukan tetap tinggal dibelakang untuk mempertahankan kota tersebut. Hal yang paling mengerikan bagi Arthas pun terjadi, ia menyadari bahwa wabah tersebut bukanlah semata-mata senjata pembunuh massa, melainkan merubah para warga kota tersebut menjadi makhluk Undead. Pasukan Arthas mulai kewalahan, disaat-saat terakhirnya Uther muncul bersama dengan bantuan dan berhasil menyelamatkan Hearthglen dari serangan Undead.


Bersama-sama mereka melawan pasukan Undead.

Ketika Arthas bersama dengan pasukannya melanjutkan kembali perjalanan mereka ke Hearthglen, ia di datangi oleh Medivh. Medivh memberikan nasihat kepada Arthas sama seperti nasihat yang ia berikan ke Raja Terenas ayah Arthas, bahwa ia harus meninggalkan tanah terkutuk ini dan mulai pergi ke daerah barat bernama Kalimdor. Arthas bersikukuh bahwa tempatnya adalah bersama dengan rakyatnya, dan bersumpah bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka seorangpun. Jaina berpendapat bahwa mungkin sang peramal (Medivh) ada benarnya, tetapi Arthas mengacuhkan kata-kata Jaina dan meneruskan kembali perjalanannya ke Stratholme.

Pembersihan Stratholme

Ketika ia sampai di Stratholme, Arthas menemukan bahwa gandum-gandum yang telah terjangkit wabah telah di distribusikan, dan ia tahu bahwa cepat atau lambat para warga akan berubah menjadi Undead. Ia memperintahkan Uther dan pasukannya untuk membakar habis seluruh kota bersama dengan yang tinggal didalamnya. Terkejut, Uther menolak perintah tersebut dengan menyatakan ia tidak akan mengikuti perintah keji tersebut meskipun Arthas sudah menjadi Raja. Menuduh bahwa Uther berkhianat terhadap dirinya dan Lordaeron, Arthas dengan haknya sebagai pewaris kerajaan membubarkan pasukan Silver Hand dan mencabut Uther dari posisinya untuk sementara. Beberapa prajurit terlihat pergi bersama dengan Uther dan hal yang sama pun dilakukan oleh Jaina, sementara pasukan-pasukan yang setia terhadap Arthas tetap tinggal dan bergabung dengannya untuk membantai seluruh warga yang ada dalam kota tersebut. Kepergian Jaina meninggalkan dirinya adalah sebuah pengkhianatan besar yang pernah Arthas rasakan, orang yang paling ia percayai untuk bersama disisinya memilih untuk tidak bersamanya lagi.


Arthas membakar Stratlehome bersama dengan orang-orang yang tinggal didalamnya

Arthas mulai membantai para warga Stratholme dari mulai pria, wanita, sampai anak-anak meskipun mereka belum berubah menjadi Undead atau mayat hidup. Ditengah kekacauan tersebut, Arthas bertemu dengan Mal’Ganis itu sendiri, dimana ia sedang sibuk merubah orang-orang menjadi Undead untuk dijadikan pasukan miliknya. Arthas bersusah payah untuk menghancurkan mereka sebelum Mal’Ganis bisa menjangkau jiwa-jiwa mereka, memberikan mereka kematian yang pantas ketimbang melihat rakyatnya berubah menjadi mayat hidup. Akhirnya setelah pembantaian, Arthas akan membalas perbuatan dengan sang demon dan bersumpah akan mengejarnya meskipun sampai ke ujung dunia. Mal’Ganis berhasil lolos, dan berjanji akan bertemu dengan dirinya (Arthas) di Northend. Arthas kemudian membakar habis Stratholme bersama dengan seluruh mayat warga kota di dalamnya. Semenjak pembersihan tersebut merubah Arthas selamanya, ketidak mampuannya untuk menghentikan bencana wabah yang ada harus membuat dia menjalani jalan yang dingin tanpa seorang pun yang menemaninya. Hanya satu yang membuatnya mampu terus maju dalam jalan yang gelap dan dingin tersebut, yaitu api dendam dan amarah yang terus berkobar sampai saat ini.



Arthas berhadapan dengan Mal'ganis.

Northend

Arthas mengikuti Mal’Ganis bersama dengan sisa pasukannya. Mereka sampai satu bulan kemudian di Daggercap Bay (Northend). 


Northrend

Ketika ia dan pasukannya sedang mencari sebuah tempat yang tepat untuk dijadikan kemah, pasukan Arthas dikejutkan dengan suara tembakkan sebelum akhirnya dikenali oleh kelompok penjelajah Dwarf. Arthas dikejutkan karena bisa bertemu dengan sahabat baik dan mantan gurunya, Muradin Bronzebeard. Awalnya, Muradin mengira bahwa Arthas adalah pasukan yang dikirim untuk menyelamatkan dirinya beserta orang-orangnya, dimana mereka telah dikepung oleh sekelompok Undead disaat mereka mencari pedang mahadahsyat bernama Frostmourne. Arthas pun mengakui bahwa bisa bertemu pada saat itu juga adalah murni ketidak sengajaan. Bersama dengan Muradin, Arthas mulai menghancurkan satu persatu kemah Undead, namun disana tidak ada tanda-tanda dari Mal’Ganis.



Muradin Bronzebeard

Ketika Arthas dan Muradin sedang pergi mencari Frostmourne, seorang pembawa pesan dari Lordaeron tiba menggunakan Zepplin dan berbicara kepada Kapten Luc Valonforth. Ia membawa perintah dari Uther dan Terenas, menginstruksikan Arthas bersama orang-orangnya untuk kembali pulang. Ketika Arthas kembali ke markas dan mendengar hal ini ia meradang, di tambah pasukannya telah meninggalkan pos-pos mereka, dan kabur kedalam hutan terus menuju ke kapal mereka. 

Arthas tidak memiliki niat untuk pergi sampai Mal’Ganis dibinasakan, ia berencana akan membakar kapal-kapal tersebut sebelum pasukan yang lari berhasil melarikan diri ke kampung halaman mereka. Dengan bantuan beberapa  tentara bayaran yang terdiri dari orang-orang lokal di Northend (troll, dan Ogre), ia berhasil mencapai dan membakar kapal-kapal tersebut lebih dahulu. Ketika pasukan yang kabur sebelumnya tiba dan mendapati bahwa kapal telah hangus terbakar, Arthas mengkhianati para tentara bayaran dan menuduh merekalah yang membakar kapal, sang kapten Luc Valonforth yang turut menghabisi tentara bayaran merasa jijik terhadap kebohongan Arthas, hal ini juga sama dirasakan oleh Muradin Bronzebeard. Arthas memberitahu orang-orangnya bahwa tidak ada alasan lagi untuk mereka pulang, dan satu-satunya jalan untuk pergi dari Northend dan kembali ke Lordaeron adalah melalui kemenangan mereka terhadap Mal’Ganis, atau dengan kata lain dendam Arthas harus terbalaskan baru mereka bisa pulang.


The Runeblade Frostmourne

Arthas bersama dengan pasukannya melanjutkan serangan mereka pada Drak’Tharon Keep untuk mencari Frostmourne. Ketika ia hadir ditempat tersebut, Mal’Ganis muncul di hadapannya, dan mengancam Arthas bahwa kematiannya akan menjemput dia cepat atau lambat. Arthas pergi mencari Frostmourne bersama Muradin, meninggalkan Kapten Luc Valonforth untuk mempertahankan kemah mereka.


Pedang terkutuk Frostmourne.

Menggunakan gerbang kuno, Arthas, Muradin, beserta sekelompok kecil pasukan menjelajahi daerah sekitar gua tempat Runeblade tersebut berada. Arthas kemudian menghadapi beberapa pelindung yang menjaga tempat tersebut, yang berusaha untuk menjauhkan Arthas dari Frostmourne demi kebaikannya sendiri. Para pelindung tersebut akhirnya tumbang, dan Arthas juga Muradin pergi untuk mengambil pedang tersebut. Muradin, membaca tulisan yang ada disekitar tersebut, lalu melaporkan bahwa pedang tersebut terkutuk dan memohon kepada Arthas untuk pergi dari tempat ini sekarang juga, ia memohon kepada Arthas “Oh! Tinggalkan pedang itu ditempatnya Arthas! Lupakan masalah ini dan bawa orang-orangmu pulang!”, tetapi Arthas tetap bersikukuh pada pendiriannya. Arthas kemudian meminta penunggu yang ada dalam tempat tersebut untuk membebaskan belengu es yang menahan Frostmourne, ia menyerukan bahwa ia rela “memberikan dan membayar dengan apapun yang aku miliki, hanya jika kau memperbolehkanku menyelamatkan rakyatku!”. Ketika pedang tersebut terbebas dari belengunya, Muradin tertusuk bongkahan es yang membelengu pedang tersebut dan mengalami cedera parah. 

Arthas pun pergi untuk menolong Muradin ia berdoa kepada cahaya untuk menyembuhkan luka yang di alami oleh Muradin, namun ia mengurungkan niatnya ketika suara Frostmourne mulai menggema di kepalanya. Arthas membuang palu sucinya, Light’s Vengeance, dan mengambil Frostmourne lalu kembali ke markasnya, meninggalkan Muradin seorang diri. Dengan Frostmourne ditangannya, Arthas mengalahkan pasukan-pasukan Mal’Ganis dengan mudah dan akhirnya menghadapi sang Demon ditempat kediamannya.




Ner'zhul wujud asli Lich King

Mal’Ganis memberi tahu Arthas bahwa suara yang ia dengar di suaranya adalah milik dari Lich King Ner’Zhul. Namun, Arthas memberi tahu bahwa suara tersebut menyuruh dirinya untuk membunuh Mal’Ganis, dimana hal tersebut mengejutkan sang Demon. Setelah mengalahkan Mal’Ganis, Arthas pergi jauh ke daerah utara yang penuh dengan badai salju, meninggalkan pasukannya kepada nasib mereka masing-masing.


Arthas menebas Mal'ganis.

Suara dari pedang itu terus berbicara kepadanya dan membuat Arthas gila akan karenanya. Awal mula Frostmourne adalah pedang yang dibuat oleh Dreadlords (jenis Demon seperti Mal’Ganis yang dikalahkan Arthas) dan Ner’Zhul merupakan murid dari Gul’Dan yang dihukum oleh Kil’Jaeden dimana jiwanya di cabik-cabik sampai berkeping-keping, bongkahan jiwa Ner’Zhul itulah kemudian masuk kedalam pedang Frostmourne dan sisanya masih tersegel di Frozen Throne tempat baju pelindung dan mahkota Lich King berada. Sudah merupakan rencana awal Ner’Zhul dari mengirim Kel’Thuzad sampai Mal’Ganis untuk membuat Arthas mengambil pedang tersebut dan menjadikan dirinya salah seorang pelayan yang setia kepadanya. Rencana itupun sukses dan Arthas yang sebelumnya seorang Paladin yang berjalan dalam cahaya sekarang menjadi seorang Death Knight yang selalu membawa kematian kemanapun ia pergi. Beberapa prajurit yang ditinggalkan Arthas pun berubah menjadi Death Knight.


Death Knight

Lich King

Pengkhianatan

Arthas pun kembali ke kampung halamannya Lordaeron satu bulan kemudian semenjak ia mengambil Frostmourne. Kerajaan pun bersorak sorai bahagia menyambut kedatangan pangeran dan pahlawan mereka, lonceng – lonceng dibunyikan dan rakyat menaburkan bunga sepanjang jalan untuk menyambut sang pangeran. Arthas berlutut di hadapan ayahnya Raja Terenas Menethil II yang menyambutnya dengan tangan terbuka, dalam benak Arthas ia berkata “Kau (Terenas) tidak perlu lagi berkorban untuk rakyatmu. Kau tidak perlu lagi memikul beban mahkotamu. Aku akan urus semuanya.” Arthas kemudian mendekati ayahnya dengan pedang terhunus, sang ayah dengan rasa tidak percaya melihat kepada anak kesayangannya, anak yang sangat dicintainya, dengan suara penuh ketakutan ia berkata kepada Arthas “Apa ini? Apa yang kau lakukan anakku?” Arthas kemudian membalas ucapan sang ayah dengan penuh nada dingin, nada dimana sang ayah tidak mengenalinya lagi, Arthas mengangkat pedangnya Frostmourne tepat di dada sang ayah dan berkata “Menggantikanmu, Ayah..” Frostmourne menembus dada sang ayah saat itu juga tanpa keraguan sedikitpun dari Arthas. Ia membunuh sang ayah dan rajanya sendiri dimana ia pernah sumpah setia kepadanya. Ia kemudian menyerukan “Kerajaan ini akan hancur, dan dari abunya akan bangkit kekuatan baru yang akan menggoncang seluruh pondasi yang ada dunia!”


Arthas membunuh Ayahnya sendiri.

Seluruh rakyat yang menyambut Arthas dibantai saat itu juga bersama dengan seluruh pasukan Death Knight-nya. Momen yang paling memorable adalah ketika Thassarian yang merupakan salah satu Death Knight yang dibangkitkan Arthas, harus memenggal kepala ibunya sendiri yang telah menangis memohon ampun, hal ini merupakan perintah dari Arthas dan bertujuan untuk menujukkan loyalitas dirinya kepada Arthas. Tidak ada yang tahu akan nasib saudara perempuan Arthas Calia, dan ibunya, ada kemungkinan mereka selamat dari pembantaian kerajaan tersebut. Kemudian seluruh orang yang dibantai dalam kerajaan tersebut dibangkitkan kembali menjadi Undead dan beberapa menjadi Death Knight. 


Thessarian membunuh Ibunya.

Setelah pembantaian kampung halamannya tersebut ia pergi ke peternakan Balnir. Disana ia menggunakan kekuatan Necromancy nya untuk membangkitkan kembali kudanya yang setia Invincible, agar sang kuda bisa melayani menjadi kendaraan tuannya kembali.

Satu minggu kemudian, Arthas kembali muncul di desa Vandemar atas perintah tuan barunya The Lich King atau dengan nama lain Ner’Zhul. Di desa itu ia bertemu seorang Dreadlord bernama Tichondrius the Darkener, ia memiliki bentuk yang serupa dengan Mal’Ganis. Mengira bahwa Dreadlord adalah Mal’Ganis, Arthas yang kaget dengan spontan mengancam sang Dreadlord dan berusaha membunuhnya. Sesaat kemudian sang Dreadlord mencoba untuk menenangkan Arthas dan menjelaskan bahwa dirinya bukanlah Mal’Ganis dan bukanlah musuh dirinya, melainkan ia datang untuk mengucapkan selamat kepada Arthas bahwa dirinya telah lulus dari ujian pertamanya dengan membunuh ayahnya dan membawa pasukan Scourage (pasukan Undead) ke Lordaeron. Lich King puas akan antusiasme dari Arthas. Arthas menghargai ucapan selamat dari Tichondrius dan ia sama sekali tidak merasakan rasa penyesalan sedikitpun atas tindakannya. 


Tichondrius

Tichondrius kemudian menjelaskan bahwa pedang Frostmourne dibuat dengan kemampuan untuk mencuri jiwa-jiwa yang ia bunuh oleh pedang tersebut, dan jiwa Arthas sendirilah adalah jiwa pertama yang pedang itu ambil. Arthas kemudian bertanya apa keinginan Lich King. Tichondrius menjawab pertanyaan Arthas bahwa mereka harus mengumpulkan seluruh anggota dari Cult of the Damned, sebuah dimana anggotanya mendedikasikan hidup mereka untuk melayani Lich King. Kebanyakan anggota dari persekutuan ini adalah manusia, tetapi meliputi berbagai ras juga didalamnya. Para anggotanya sangat menginginkan menjadi Undead, namun mereka tetap hidup dengan alasan : pertama, untuk menjadi Undeath merupakan salah satu kehormatan yang harus diraih, dan kedua, menjadi makhluk hidup lebih berguna untuk Lich King karena mampu membuat mereka menyusup menjadi mata-mata di dalam Horde atau Alliance.




Para anggota Cult of the Damned.

Arthas kemudian mengumpulkan semua anggota Cult of the Damned yang bersembunyi di desa Vandemar, dan kemudian melindungi Arthas menggunakan kemampuan sihir mereka ketika Arthas pergi ke Andorhal untuk mengambil mayat Kel’Thuzad. Arthas kemudian membunuh Paladin yang menjaga kuburan tersebut bernama Gavinard the Dire yang mencemooh Arthas dengan berkata “Aku tidak percaya bahwa kami pernah memanggilmu dan menerimamu sebagai saudara! Aku tahu bahwa sebuah kesalahan untuk menerima seorang pangeran yang manja kedalam orde. Kau telah mencoreng wajah dari Silver Hand!”. Setelah Arthas berhasil mengambil mayat sang Necromancer Kel’Thuzad, roh dari Necromancer muncul dan dengan rahasia menasehati Arthas bahwa jangan percaya terhadap semua ucapan yang keluar dari mulut Dreadlord. Arthas pun setuju atas nasihat dari Kel’Thuzad.

Mayat Kel’Thuzad sudah membusuk sekaligus hancur dan untuk dibangkitkan kembali ia harus membawanya ke kolam mistis bernama Sunwell yang terletak di Quel’Thalas kota para Blood Elf. Kemudian Tichondrius muncul dan memerintahkan Arthas untuk mengambil sebuah guci mistis, dimana nanti guci itu digunakan untuk menampung abu dari Kel’Thuzad. Tetapi hal tersebut tidaklah mudah, karena guci tersebut dijaga oleh para prajurit dari Silver Hand. Arthas berhasil mengalahkan 2 Paladin, Ballador the Bright (selamat ) dan Sage Truthbearer, dimana keduanya mengutuk pengkhianatan yang dilakukan oleh Arthas. Ia kemudian bertemu dengan mantan guru sekaligus mentornya Uther the Lightbringer, yang menjelaskan kepada Arthas bahwa guci tersebut menampung abu dari Ayah Arthas, Raja Terenas. Dalam pertempuran Uther bukanlah lawan yang bisa diremehkan, ia mendapatkan julukan Lightbringer bukan karena hal sepele. Uther hampir mengalahkan Arthas tetapi apa daya, kekuatan Frostmourne di gabung dengan kekuatan dari Lich King yang ada dalam diri Arthas mampu memadamkan cahaya yang paling terang pada saat itu. 

Arthas bertarung dengan mantan mentor dan gurunya, Uther.

Uther sebelum kematiannya mengutuk Arthas “Aku berharap bahwa ada tempat khusus di neraka yang menunggumu, Arthas..” Arthas menjawab perkataan gurunya “Siapa yang tahu Uther? Aku bertujuan untuk hidup Selamanya.” Arthas kemudian membuang isi dari guci tersebut, abu Raja Terenas kemudian terbang ditiup oleh angin yang membuat abu tersebut seolah kembali untuk menebari tubuh Arthas dan membuat sang Death Knight kesulitan bernafas, ia seperti tercekik dan jatuh dengan kedua lutunya. Sesaat kemudian Arthas pulih, dan memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk menempatkan abu dari Necromancer kedalam guci ayahnya dan siap untuk dipindahkan ke kota sihir Quel’Thalas.


Jatuhnya Quel’Thalas

Arthas mengalami kesulitan untuk menumbangkan Quel’Thalas karena gigihnya pertahanan yang dilakukan oleh kaum Blood Elf untuk mempertahankan kota mereka. Pertahanan tersebut dipimpin oleh seorang Ranger bernama Sylvanas Windrunner. Tetapi ada seorang pengkhianat diantara kaum Elf, yaitu Dar’Khan Drathir  yang menolong Arthas untuk memperoleh akses kedalam kerajaan Quel’Thalas. Pasukkan Undead Arthas berhasil menerobos gerbang pertahanan Quel’Thalas, dan seiring pasukan itu berjalan tanah yang mereka lalui meninggalkan luka dalam tanah itu, menjadi gersang dan mati. Sylvanas dan Lady Liadrin mencoba segala yang mereka bisa untuk mencegah pasukan Scourage untuk masuk ke dalam kota mereka. 


Sylvanas Windrunner

Sylvanas mencoba memperingati kota Elf akan kedatangan pasukan Scourage, tetapi Arthas datang lebih dahulu kepadanya, menghancurkan kemah dan pasukannya beserta sang Ranger di dalamnya. Karena Sylvanas telah membuat Arthas kerepotan akan perlawanannya ia membangkitkan sang Ranger kembali menjadi seorang Banshee dan memperbudak dia atas keinginan Lich King, memaksa Sylvanas untuk menyaksikan seluruh rakyatnya dibantai.

Banshee (1)


Banshee (2)

Arthas, bersama pasukan Scourage-nya berhasil menghancurkan Quel’Thalas, menjadikan kota itu dalam sekejap seperti reruntuhan. Dalam perjalanannya ke Sunwell ia bertemu dengan Anasterian Sunstrider, Raja Quel’Thalas yang sudah tua renta, dan tentu saja Arthas membunuh dia tanpa susah payah dan Sylvanas menyaksikan hal ini dan teriakan tangisnya terus menggema di kota Quel’Thalas. Arthas lalu menggunakan Sunwell untuk membangkitkan kembali Kel’Thuzad, dan terlahir kembali menjadi makhluk Undead berjenis Lich. Makhluk Lich ini memiliki kekuatan sihir yang luar biasa dibandingkan makhluk lainnya dan dikendalikan oleh Lich King.


Kel'Thuzad bangkit.

Kehancuran Dalaran

Setelah dibangkitkan keduanya melanjutkan perjalanan mereka daerah bernama Alterac, disana Kel’Thuzad menjelaskan panjang lebar tentang “invasi kedua” dan rencana untuk Lich King dan pasukan Scouragenya. Kel’Thuzad kemudian menghancurkan kemah dari klan Orc Blackrock yang menjaga gerbang Demon pada saat itu, dan setelah Kel’Thuzad menerima perintah dari Archimonde, mereka akhirnya pergi ke tempat dimana seluruh penyihir terkuat dunia berkumpul, kota sihir Dalaran. Archimonde kemudian menugaskan mereka untuk mendapatkan buku sihir milik mendiang Medivh, dimana buku tersebut mampu membuat Kel’Thuzad untuk memanggil Archimonde, salah satu pemimpin tertinggi klan Demon ke Azeroth.


Archimonde

Disana Kirin Tor yang merupakan organisasi para Mage terkuat di Dalaran melakukan perlawanan yang mereka bisa untuk menghalau pasukan mayat hidup Scourage yang menginvasi mereka, pasukan Scourage berhasil menembus pertahanan dan perlindungan sihir mereka terhadap Dalaran. Antonidas yang merupakan pemimpin kota Dalaran, guru dari Jaina, dan sekaligus penyihir terkuat di dunia saat itu akhirnya berhasil dibunuh oleh Arthas, dan buku Medivh jatuh ke tangan mereka.

Meskipun para mage telah melakukan berbagai upaya untuk menyerang balik namun usaha mereka dengan mudah di halau oleh Arthas beserta pasukannya. Kel’Thuzad yang sudah mendapatkan buku Medivh memulai ritualnya untuk memanggil Archimonde. Ketika Archimonde tiba, ia memberitahu bahwa Lich King sudah tidak berguna lagi untuk Legion, dan Tichondrius menggantikan posisi Lich King untuk mengendalikan pasukan Scourage. Arthas kemudian bingung dan khawatir akan masa depan untuk dirinya dan Kel’Thuzad, tetapi sang Lich dengan tenang menjawab pertanyaan Arthas bahwa Lich King sudah lama tahu akan hal ini. Keduanya kemudian menghilang, sesaat setelah Archimonde pergi untuk menghancurkan kota Dalaran yang begitu besar hanya dalam satu kali ritual saja.


Dalaran hancur.

Arthas kemudian terlihat kembali di Kalimdor beberapa bulan kemudian setelah kedatangan Archimonde, di Kalimdor Tichondrius memanfaatkan kekuatan Arcane tengkorak Guldan untuk membuka portal bagi pasukan Legion untuk menginvasi kembali Azeroth. Disana Arthas bertemu dengan Illdian yang baru saja bebas dari penjaranya, ia memberitahu sang Demon Hunter tentang kekuatan tengkorak itu dan bagaimana mengambil kekuatannya juga memberitahu Illidan siapa dalang yang bertanggung jawab untuk mencemari dan merusak kampung halamannya adalah seorang demon bernama Tichondrius, sebagai gantinya jika Illidan  berhasil memperoleh kekuatan itu ia harus membunuh Tichondrius. Illidan setuju akan rencana Arthas, dan setelah itu Arthas kembali menghilang.

Kembali Ke Lordaeron

Archimonde meninggalkan trio Dreadlord dibelakang reruntuhan taman kerajaan dari Lordaeron. Disana mereka ditugaskan untuk mengawasi daerah itu masih dalam kendali mereka dan mengawasi pasukan-pasukan yang masih melayani Ner’Zhul. Sang trio Dreadlord tidak tahu bahwa tuan mereka Archimonde sudah dikalahkan oleh Thrall, Jaina, dan Malfurion. Arthas kemudian datang untuk mengambil alih singgasananya. Ia kemudian mengancam para Dreadlord tersebut, untuk pergi dari tempat itu saat ini juga, dan memanggil Sylvanas dan Kel’Thuzad ke sisinya. 

Bersama-sama mereka menghancurkan tempat-tempat pengungsian manusia disekitar daerah tersebut, dimana para pengungsi itu dilindungi oleh para Paladin bernama Dagren the Orcslayer, Halahk the Lifebringer, dan Magroth the Defender. Tetapi saat-saat akhir pertempuran Arthas merasakan rasa sakit yang luar biasa, dan ia merasakan bahwa Lich King memanggil dirinya. Mengesampingkan kekuatannya yang mulai memudar, Arthas tetap bertempur sampai tidak ada manusia lagi yang tersisa ditempat itu.


Sedikit yang Arthas ketahui bahwa kekuatan Lich King telah semakin lemah sampai dititik dimana Sylvanas telah berhasil lepas dari kendali dirinya. Setelah memperoleh kebebasannya, secara diam-diam Sylvanas bertemu dengan 3 orang Dreadlord yang sebelumnya telah di usir oleh Arthas, dimana Sylvanas diberitahu bahwa kekuatan Lich King telah memudar, dan waktunya untuk membalas dendam telah tiba.


Sylvanas terbebas dari pengaruh Lich King.

Arthas disergap oleh para Dreadlord memisahkan dirinya dengan Kel’Thuzad. Arthas harus bertahan hidup dan melarikan diri sekaligus mengumpulkan para pelayannya yang setia untuk bisa bertempur bersama dirinya melawan pasukan para Dreadlord termasuk makhluk kuat bernama Bloodfeast. Ketika Arthas berhasil melarikan diri sampai ke batas kota, ia kemudian diselamatkan oleh sekumpulan Banshee, yang memberitahu dirinya bahwa Sylvanas telah mengirim mereka untuk mengawal Arthas sampai ke tempat yang aman. Setelah itu, ketika mereka sampai di hutan belantara, Arthas menerima pengelihatannya kembali dari Lich King, yang memberitahu dia bahwa ia telah ditipu dan dikhianati. Sylvanas kemudian muncul dan memanah Arthas dengan anak panah yang telah dilumuri oleh racun untuk melumpuhi Arthas. Disaat-saat terdesaknya tersebut Kel’Thuzad muncul dengan pasukan bantuannya dan berhasil menyelamatkan Arthas.

Tetapi masalah tidak berhenti sampai situ, teriakkan kesakitan dan tangis Lich King semakin menggema di kepala Arthas, ia terus diperintahkan untuk kembali ke Northend, dimana para pasukan Demon (Illidan dan para naga) telah berusaha untuk menghancurkan Frozen Throne dan mengakhiri rezimnya. Dengan sigap, Arthas mempersiapkan seluruh pasukannya dan mulai berlayar kembali ke Northend, meninggalkan Kel’Thuzad untuk tetap menjaga kekuasaan Lich King di Lordaeron.


Kel'thuzad meneror Azeroth.

Melarikan diri ke Northend

Tiga minggu kemudian, Arthas mendarat di pantai yang tidak asing di Northend, dan tanpa ia duga ia menerima serangan dari para Blood Elf yang dipimpin oleh Kael’Thas, yang haus akan dendam karena kerajaan dan kampung halamannya hancur oleh pasukan Scourage. Arthas juga lagi-lagi tidak menduga bahwa ia akan menerima bantuan dari Anub’arak mantan raja dari Azjol-Nerub, dan merupakan salah satu Crypt’Lord yang memiliki bentuk seperti serangga besar. Kael’thas memperingatkan meskipun pasukan pengintainya telah gugur, tetapi pasukan utama mereka tidaklah mudah untuk dikalahkan, setelah itu Kael’Thas melakukan teleport ke tempat yang lebih aman.

Arthas kemudian khawatir akan kata-kata yang diucapkan oleh musuhnya, dan kemungkinan bahwa mereka tidak akan pernah mencapai istana Icecrown sebelum Illidan, tetapi Anub’arak telah memiliki pemikiran lain. Ia menyarankan bahwa ia tahu jalan aman melalui reruntuhan kerajaan Azjol-Nerub, dimana jalan itu terletak jauh di bawah tanah dan tidak seorang pun yang mengetahui jalan itu termasuk Illidan dan pasukannya. Melihat tidak ada pilihan lain, Arthas kemudian menyetujui saran dari Anub’arak.


Anub'arak, salah satu pelayan setia Lich King.

Anub’arak kemudian menyarankan lagi untuk menyerang naga bernama Sapphiron, yang merupakan salah satu jenis dari naga biru yang melayani Malygos raja dari para naga biru, dan melengkapi diri mereka dengan artifak – artifak yang dijaga oleh naga tersebut. Tidak hanya membunuh sang naga, Arthas kemudian menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk membangkitkan kembali Sapphiron menjadi salah satu naga es yang melayani dirinya.

Lomba ke Frozen Throne

Ketika Arthas tiba di pintu gerbang Azjol-Nerub, ia di bombardir oleh para sekelompok Dwarves yang sebelumnya merupakan pengikut dari Muradin yang tetap tinggal disana sampai ketika pemimpin mereka (Muradin) di duga telah meninggal. Sekarang para Dwarves tersebut dipimpin oleh salah satu anak buah kepercayaan Muradin bernama, Baelgun Flamebeard. Meninggalkan Sapphiron diluar gerbang, Arthas bertempur tidak hanya menghadapi pasukan yang dipimpin oleh Baelgun, namun juga para serangga Nerubian, sepanjang jalan ia menelusuri kerajaan para laba-laba itu. Pertolongan Anub’arak sangatlah berjasa bagi Arthas, ia mampu membimbing Arthas dari seluruh jebakan mematikan yang mungkin saja bisa membunuh sang pangeran.

Ketika Arthas menghadapi Baelgun, para Dwarf memperingati bahwa tanah yang bergejolak telah melepaskan sesuatu yang tua dan jahat dari bawah kerajaan laba-laba. Ketika Arthas dan Anub’arak semakin jauh menelusuri kerajaan kedalam bumi, hal yang diperingati oleh para Dwarf menjadi nyata dan muncul menghadangi perjalanan kelompok Arthas. Musuh yang muncul di hadapan Arthas bernama Faceless, salah satu jenis makhluk ras yang kejam, kuat, dimana keberadaan mereka hanya dipercayai dalam legenda-legenda lama saja. Arthas dan Anub’arak bahkan bisa mengalahkan makhluk yang sangat kuat ini dengan susah payah.


Faceless one

Ketika mereka (Arthas dan Anub’arak) semakin mendekat ke permukaan, gempa bumi terjadi dan meruntuhkan jalan yang baru saja mereka lalui, memisahkan keduanya. Arthas harus menggunakan akal cerdiknya untuk melewati jebakan-jebakan mematikan sebelum Anub’arak menggali jalannya sendiri menuju Arthas. Ketika mereka bersatu, Anub’arak memuji Arthas dengan berkata bahwa sekarang ia tahu mengapa Ner’zhul memilih dirinya sebagai pejuang terbaiknya. Ketika mereka berhasil melewati Azjol’nerub, Lich King kemudian melakukan kontak kembali dengan Arthas, dan menjelaskan bahwa ia (Lich king)  mulai melemah dan kehilangan kekuatannya, karena Frozen Throne semakin retak dan mendekati kehancuran, dan ada sebuah energy yang besar menyerap kekuatan Ner’zhul. Ner’zhul kemudian memulihkan kekuatan Arthas, memberitahu kepadanya bahwa ia akan membutuhkan kekuatan tersebut untuk pertarungan yang akan datang.

Setelah sampai dipermukaan, mereka dengan segera melakukan kontak dengan pasukan milik Illidan. Pasukan Naga milik Vashj dan pasukan Blood Elf milih Kael ada disana untuk menekan pasukan Arthas disetiap kesempatan yang ada. Arthas, bersama dengan pertolongan Anub’arak, bertempur menembus seluruh pasukan yang menghadangi mereka, dan secara ajaib mengaktifkan Obelisk Icecrown disekitar gletser yang ada disana, membuka gerbang menuju Frozen Throne. Tetapi Illidan sudah berada didalam menunggu Arthas untuk menghadapi dirinya.


Kael'thas menahan pasukan Scourage.

Kemenangan Lich King

Arthas memperingatkan Illidan untuk meninggalkan Azeroth dan jangan pernah menginjakkan kakinya lagi di tanah Azeroth. Penolakan dari Illidan memulai duel yang menegangkan dan sengit diantara keduanya. Illidan dengan mudah mengungguli Arthas dengan kemampuannya, tetapi karena kecongkakan yang ia miliki membuat dirinya terbuka dan Arthas berhasil melihat kesempatan dalam celah yang Illidan buat sendiri. Arthas kemudian memanfaatkan celah tersebut dan berhasil menebas dada sang Demon Hunter dengan Frostmourne. Illidan kemudian tumbang kedalam salju, dan kemudian menuju gerbang Icecrown dengan senyum kemenangan yang menghiasi wajah dinginnya.


Arthas melawan Illidan

Arthas kemudian memasuki sebuah gletser yang terdapat rongga besar didalamnya dan menyaksikan sebuah menara nan tinggi yang terbungkus oleh salju dan es dimana tempat tersebut terhubung oleh rantai-rantai besi yang terikat pada es-es sekitarnya. Ketika ia mulai menaiki satu persatu tangga dalam menara tersebut menuju takdir yang menunggu di depan matanya, suara-suara yang telah ia tinggalkan dan ia khianati mulai memenuhi isi kepalanya. Ia mulai mendengan Muradin Bronzebeard, Uther sang mentor terdahulunya, dan Jaina yang terus menerus memanggil namanya, tetapi Arthas menghiraukan suara-suara tersebut, dan terus melanjutkan pendakiannya menuju singgasana es. Di dalam terdapat sepasang baju zirah, tertata dengan baik seperti sedang duduk dalam sebuah singgasana yang sangat besar. Sejak saat itu hanya ada satu suara  yang ada dalam pikiran Arthas, berbicara kepadanya seolah-olah berusaha menarik Arthas ke dalam gengamannya, suara itu adalah Ner’Zhul.

Return the blade… complete the circle.. release me from this prison!” – Ner’Zhul to Arthas.


Singgasana berada di puncak menara

Dengan kekuatannya yang besar, Arthas menggunakan Frostmourne untuk menghancurkan penjara es yang telah menahan Lich King sekian lama dan dengan teriakan yang mengerikan, Frozen Throne meledak, dan pecahan-pecahan es yang memenjarakan Lich King mulai berserakan di sekitar singgasana.

Mahkota Lich King yang juga menjadi wadah jiwa Ner’Zhul terlempar dalam ledakan tersebut dan mendarat tepat dibawah kaki Arthas, sang Death Knight kemudian mengambil mahkota yang sudah menjadi takdirnya, dan memasang mahkota yang memiliki kekuatan tak terbayangkan diatas kepalanya, kekuatan untuk mengendalikan setiap jiwa yang ia tebas dan kekuatan untuk mengendalikan seluruh undead yang ada di Azeroth berada dalam genggaman Arthas.

Suara Ner’Zhul kembali menggema dalam pikiran Arthas dan berkata “Sekarang.. Kita satu!”. Pada saat yang sama, jiwa Ner’Zhul dan Arthas melebur menjadi satu, menjadi Lich King baru, dimana makhluk tersebut memiliki kekuatan mengerikan, dan menjadi satu-satunya entitas paling kuat dan berkuasa yang pernah berjalan di atas bumi Azeroth sampai saat ini. Arthas yang sudah menjadi Lich King kemudian duduk diatas singgasananya, tertidur seperti hibernasi, bermimpi dan menunggu saat yang untuk terbangun kembali di puncak Icecrown.


Arthas menjadi Lich King

Raja para Scourage

Ketika bermimpi, Arthas berhasil menghalau seluruh rasa kemanusiaannya dan berhasil menekan roh Ner’Zhul, membuat dirinya menjadi satu-satunya pribadi yang dominan untuk mengendalikan Lich King.


Duduk disinggasananya, Arthas menjadi Lich King

Sebagai Lich King, Arthas mulai menghasut bahwa akan ada invasi Scourage lainnya ke Azeroth, hal ini memicu berbagai perlawanan di Northrend oleh Horde, Alliance, Argent Crusade, dan Ksatria dari Ebon Blade. Arthas melakukan hal tersebut karena memiliki maksud tersendiri, dimana ia memiliki niat untuk memancing para individu-individu terkuat ke Northrend dengan meletakan berbagai rintangan dan masalah dihadapan mereka, mencari mereka yang memiliki kepribadian yang lemah dan membuat mereka mempertanyakan moralitas atau kemanusiaan mereka sendiri. Ia berencana untuk membangkitkan dan membentuk pasukan yang terdiri dari yang terkuat sebagai tentara undead-nya, dan menggunakan mereka untuk menyerang dan membumi hanguskan kampung halamannya sendiri, cermin dari perjalanan Arthas menghancurkan tempat yang ia panggil “rumah”. 


Pasukan Scourage milik Arthas

Ia berhasil membunuh banyak dari aliansi tersebut salah satunya adalah Bolvar Fordragon yang merupakan korban selamat dari insiden Wrathgate, dihidupkan kembali hanya untuk disiksa dipuncak benteng milik Lich King.



Insiden Wrathgate

Kematian

Rencana Arthas hampir sukses ketika sekelompok pasukan dipimpin oleh Tirion Fordring berhasil mencapai Frozen Throne dan bertempur dengannya setelah para pasukan gabungan dari Horde, Alliance dan Ashen Verdict berhasil menerobos benteng Icecrown, istana tempat dimana Lich King atau Arthas bersemayam. Mereka secara bersama-sama harus mengalahkan semua monster-monster mengerikan yang ada dalam icecrown seperti Marrowgar, Sindragosa, Professor Putricide, Blood Prince, Blood Queen Lana’thel, Deathwhisper, Saurfang, dan lainnya.



Tirion bersama aliansi menyerang Icecrown Citadel

Tirion dan Argent Crusade.


Pasukan-pasukan Icecrown


Di tengah pertempuran antara Tirion dan Pasukkannya,  sang Lich King berhasil membekukan Tirion menjadi sebuah bongkahan es, dan ditengah pertempuran ia secara mengejutkan membunuh semua pasukan Tirion dengan satu kali serangan saja. 


Pada akhirnya, rencana Lich King berhasil digagalkan ketika ia baru saja mengangkat pedangnya diudara dan ingin membangkitkan pasukan-pasukan Tirion yang ia bunuh menjadi Undeath, Tirion berdoa kepada cahaya dan berhasil membebaskan dirinya dari penjara es yang dibuat oleh Lich King. 


Hal yang tak terduga ini membuat Lich King terkejut, sesaat sebelum ia bereaksi, Tirion berhasil menebas Frostmourne dengan Ashbringer menghancurkan pedang tersebut menjadi dua bagian. Hancurnya Forstmourne mengakibatkan jiwa-jiwa yang dipenjara oleh pedang tersebut berhasil bebas termasuk jiwa Arthas didalamnya. Tidak hanya itu, Lich King yang kehilangan sumber kekuatannya menjadi lemah, semua jiwa-jiwa yang diperbudak oleh dirinya mulai menyerang Lich King sehingga membuat dirinya seolah terangkat diudara dan tidak berdaya.



Tirion melancarkan serangan terhadap Lich King.


Pedang yang digunakan Tirion untuk menghancurkan Frostmourne, Ashbringer.

Sesaat setelahnya jiwa dari Raja Terenas Menethil II, ayah Arthas, muncul dan membangkitkan pasukan-pasukan Tirion untuk menumbangkan Lich King bersama-sama dengan Tirion disana. Tirion berhasil melancarkan serangan dimana Helm of Domination yang merupakan mahkota Lich King untuk mengendalikan Scourage terlepas dari kepala Arthas dimana ia kemudian mencoba kembali meraih mahkota itu sebelum akhirnya tumbang. Disaat-saat terakhirnya, roh sang ayah muncul dihadapan anaknya, mata Arthas yang menyala biru kemudian memudar menandakan bahwa roh Ner’Zhul sudah benar-benar hilang dari dalam dirinya. Dengan jiwanya terbebas dan hubungan dengan Lich King terputus, Arthas berhasil kembali ke dirinya yang lama, pribadi yang dikenal oleh Jaina atau orang-orang yang pernah mengenal dirinya terdahulu. Dengan suara lemah ia bertanya kepada ayahnya, apakah semua mimpi buruk ini sudah berakhir, Terenas kemudian menjawab pertanyaan anaknya sembari meletakan tangannya dengan lembut kapada Arthas dan berkata “pada akhirnya, tidak ada raja yang memerintah selamanya, anakku.” Arthas kemudian menjawab bahwa ia hanya melihat kegelapan yang menanti dirinya, dengan matanya yang bergulir ke belakang dan tangannya jatuh ke tanah tak bernyawa, menandakan akhir hidup dari Arthas Menethil untuk selama-lamanya.




Jatuhnya Lich King.

Sesaat sebelum menghilang, Roh Terenas memperingati Tirion bahwa kontrol terhadap Scourage harus tetap dijaga, dan harus ada orang yang harus menggantikan posisi Arthas sebagai Lich King di Frozen Throne, terpenjara jauh di atas istana es. Tirion kemudian mengambil Helm of Domination, berpikir apakah ia yang harus menanggung beban berat untuk menjadi seorang Lich King, tetapi ada suara yang menggema dalam ruangan tersebut mencegah Tirion untuk menjalani nasib yang mengerikan. Suara tersebut adalah milik Bolvar Fordragon yang sudah memiliki cacat fisik akibat nafas dari para naga dan perlawanannya terhadap kemauan Lich King sebelumnya. Ia berkata bahwa para makhluk hidup sudah tidak bisa membuat dirinya nyaman, dan meminta kepada Tirion untuk memasangkan mahkota tersebut diatas kepalanya, dan berkata bahwa ia akan menjadi penjara dari makhluk-makhluk terkutuk (undeath). Tirion sesaat ragu akan pernyataan yang dilontarkan oleh Bolvar, dan tidak memiliki hati untuk menuruti permintaan dari Bolvar, dimana Bolvar kemudian menyentak Tirion bahwa dirinya dan pasukan yang telah bertarung bersamanya memiliki takdir lain untuk mereka penuhi. Bolvar memohon kepada Tirion bahwa ini merupakan pelayanan dan pengorbanan terakhirnya untuk melindungi kampung halamannya. Tirion kemudian berkata bahwa dirinya akan selalu ia ingat dimana hal itu ditolak oleh Bolvar karena seluruh dunia harus percaya bahwa Lich King sudah mati dan tidak ada lagi di dunia ini.



Bolvar menjadi Lich King yang baru.

Makam
Tidak ada makam yang bertuliskan Arthas Menethil di dunia World of Warcraft sampai saat ini, namun katanya makam di dalam kota Stormwind yang baru dipercaya merupakan makam Arthas bersemayam karena ada lambang Lordaeron diatas makam tersebut. 



Dalam kematiannya, Arthas masih menyimpan kalung milik dari Jaina, mengindikasikan bahwa masih ada sisa dari rasa kemanusiaan pada diri Arthas, dan karenanya mungkin kemanusiaan Arthas itu sendiri yang menahan Lich King untuk membuat kerusakan lebih jauh di Azeroth.



Jaina dan Arthas


Akhir dari Arthas Menethil, sang Lich King 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.