Header Ads

Breaking News
recent

"Dr. Strange" Review dan Analisis: Petualangan LSD!

Marvel Studios.

Kita punya superhero yang mendapat kekuatan dari lahir, mutasi genetik, kecelakaan laboratorium, latihan super keras, atau memanfaatkan teknologi sebagai kekuatan mereka, namun bayangkan ada superhero yang kekuatan mereka berasal dari sihir. Doctor Strange adalah hero yang menggunakan sihir sebagai kekuatan utamanya menjadi hero yang akan bergabung dengan para Avengers di Infinity Wars. Dr. Strange adalah film dengan jenis action, adventure, fantasy dan sedikit taburan comedy tentunya. Meskipun tergolong salah satu superhero yang baru pertama kali diperkenalkan, Dr. Strange mendapatkan antusiasme yang cukup besar di masyarakat, saya sempat berpikir apakah film ini akan kurang terapresiasi seperti Ant-man namun untung saja hal itu tidak terjadi.
Di Indonesia, setidaknya di lingkungan saya banyak yang kurang mengetahui siapa Dr. Strange, tidak aneh bahwa dia bukan salah satu hero mainstream yang ada di Marvel, jadi impresi dalam film pertama merupakan hal yang penting untuk bisa meninggalkan image yang mengesankan bagi para penontonnya. Sebenarnya jika menonton film superhero seperti ini, belum mengerti background si karakter hero itu tidak masalah, justru bagus sehingga anda bisa mendapat kesan pertama tentang karakter si hero.
Sinopsis
Dr. Strange (Benedict Cumberbatch) menceritakan seorang dokter spesialis bedah syaraf yang masih muda, sukses, berbakat, dan tentunya memiliki seorang kekasih yang cantik dan baik hati. Masa depannya cerah dan menjanjikan, sampai suatu hari ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cidera parah pada kedua tangannya. Bagi Strange tangannya adalah masa depan dirinya dan kehilangan hal tersebut adalah hal terburuk yang pernah terjadi padanya. Ia melakukan segala cara yang ia bisa untuk menyembuhkan tangannya, namun semuanya sia-sia. Alih-alih sembuh ia justru menguras seluruh harta yang ia miliki dan merusak hubungannya dengan Christine (Rachel McAdams). Sendiri dan tidak memiliki apa-apa lagi, Dr. Strange mencoba pengobatan alternatif di Tibet yang ia dengar dari seorang mantan pasiennya yang didiagnosa dengan lumpuh permanen namun secara ajaib sembuh begitu saja.
Menghabiskan seluruh uang yang ia punya untuk pergi ke Tibet, ia ditemukan oleh Mordo, salah satu murid atau penyihir yang belajar dalam naungan The Ancient One. Dari yang sebelumnya tidak percaya ia menyaksikan sendiri kekuatan yang dimiliki oleh The Ancient One dan mulai belajar sihir darinya untuk menyembuhkan tangan yang ia miliki.  Keingin tahuan Strange membawa dia mempelajari hal baru bahkan sampai yang terlarang sekalipun, dan ia menyadari bahwa The Ancient One adalah orang yang melindungi dunia astral lain dengan Avengers yang melindungi dunia secara fisik saja, namun Kaecilius salah satu mantan murid The Ancient One yang memberontak mulai mengancam dunia astral dan dunia fisik yang ditinggali oleh manusia. Dr. Strange menyadari bahwa takdirnya bukan hanya menyembuhkan tangannya saja namun sesuatu yang lebih besar menunggunya di masa depan.
Dari segi cerita seperti biasa Marvel – Disney menyuguhkan cerita yang seimbang dan konsisten pada fokus yang dimiliki. Ceritanya fokus terhadap masalah yang dihadapi oleh sang karakter utama (Dr. Strange) dan bagaimana perubahan dari karakter tersebut ke arah yang lebih baik, tidak hanya tokoh Dr. Strange namun beberapa tokoh terlihat jelas perubahannya selama film ini berlangsung. Tidak ada plot yang rumit atau terkesan berat sepanjang cerita, menurut saya pribadi bahwa film seperti ini bisa dinikmati oleh seluruh kalangan termasuk anak anda, hal tersebut karena (mengesampingkan adegan ciuman) tidak ada adegan seksual atau terbuka yang tentunya bagi orang indonesia kurang mendidik bla, bla, bla (oh, cmon you know this kind of movies and what our people reacted to it). Tetapi sayangnya, mengikuti tradisi sebagai film “Intro” sang superhero, porsi ceritanya teralu berfokus terhadap Dr. Strange sehingga kita sendiri kurang bisa mengerti lebih mengenal beberapa karakter lainnya.
Untuk pertarungannya, tidak terlihat perbedaan antara murid baru dengan para Master. Hal ini karena para Master yang notabenenya adalah orang senior dan memiliki lebih banyak pengalaman, dan kekuatan sihir dalam pertarungan mudah mati begitu saja tanpa memberikan perlawanan yang pantas.

Berbicara soal kekuatan, Marvel kurang mengeksploitasi potensi yang ada dalam dunia Dr. Strange. Dalam komiknya para Sorcerrer termasuk Strange seharusnya bisa memanipulasi kekuatannya untuk merubah apapun yang mereka kehendaki saat itu juga, namun kekuatan tersebut hanya terlihat pada klimaks.
Tidak lupa tentunya bahwa ada unsur-unsur komedi ala marvel dalam film ini agar tidak terlihat bahwa film ini berisikan tentang aksi semata. Beberapa ada komedi yang cerdas seperti ketika Kaecilius menanyakan nama Dr. Strange, dan ada juga komedi yang terkesan dipaksakan namun terdengar lucu, contohnya ketika Mordo memberikan password wi-fi kepada Stephen Strange. Komedi yang ada dalam film ini membuat kita melihat beberapa pertarungan terlihat menyenangkan untuk diikuti dan tidak melulu tegang, komedi tersebut membuat kita setidaknya rileks dan nyaman meskipun pertarungan tersebut adalah pertarungan antara hidup dan mati.
Karakter
Ada 6 aktor yang menonjol dalam film ini dan semuanya diperankan oleh aktor-aktor yang namanya mungkin sudah tidak asing lagi. Dr. Strange diperankan oleh Benedict Cumberbatch, jika kalian sering melihat tv-series “Sherlock” anda tidak akan asing dengan nama itu, Mordo oleh Chiwetel Ejiofor yang performa dirinya dibuktikan dalam “12 years of slaves”, The Ancient One diperankan oleh aktris senior Tilda Swinton, dan sang karakter Antagonis diperankan oleh Mads Mikkelsen yang memiliki kharisma tersendiri dalam series “Hannibal”, dan 2 pemeran pembantu yang diperankan oleh Rachel McAdams, dan Benedict Wong. Banyak nama besar disertakan dalam film ini, meskipun begitu Marvel masih melakukan kesalahan-kesalahan yang sama seperti film-film sebelumnya.
Kesalahan tersebut tidak lain pemeran antagonisnya Kaecilius yang masih kurang menggigit jika mau disejajarkan dengan tokoh villain milik DC. Meskipun diperankan oleh tokoh berkharisma seperti Mads Mikkelsen namun kharisma tersebut seolah mati dalam film ini. Saya sama sekali tidak menemukan motif yang kuat dari sang villain dan ambisinya seolah terlihat mati sepanjang film, bahkan karakternya saja terlihat generik seperti Ronan atau Malekith yang dimana sama sekali tidak menggertak sang tokoh utama sepanjang cerita. Sekali lagi marvel seolah membuat tokoh villain tersebut ada agar hero-hero yang ada disana memiliki sekedar ada kerjaan saja.
Benedict Cumberbatch aktor yang bertanggung jawab menghidupkan tokoh Dr. Strange perlu di apresiasi karena dia cukup baik dalam membawakan perannya disini. Namun yang menggangu saya sendiri adalah kemiripan antara tokoh Stephen Strange dengan Tony Stark aka Iron Man. Sekarang bandingkan dua-duanya adalah anak jenius dalam bidangnya, kaya raya, egosentris, pencari perhatian, dan memiliki ketertarikan untuk belajar lebih jauh. Saya sebenarnya kurang memahami bagaimana sifat Dr. Strange karena kurang mengikuti tokoh ini dari berbagai sumbernya (komik, kartun, dan sumber lainnya).  
Tidak hanya villain nya saja yang kurang mencolok namun Rachel McAdams yang berperan sebagain Christine Palmer dan Benedict Wong yang memerankan.. wong.. juga tidak mendapatkan screen time yang sepantasnya.  Mungkin alasannya yang paling masuk akal adalah mungkin dari pihak studio ingin lebih fokus  terhadap Dr. Strange ketimbang memikirkan sisi-sisi lainnya yang ada di film ini.
Karakter Tilda Swinton sebagai The Ancient One juga tak luput dari kekecewaan saya. Seperti yang kita tahu bahwa Tilda Swinton dikenal sebagai aktris wanita yang menurut saya bisa memerankan berbagai karakter dalam setiap film yang ada dia didalamnya, dan bagaimana ia membawakan The Ancient One cukup lumayan. Namun yang menjadi nilai kurang dari karakter tersebut karena terlihat bahwa karakter ini kurang memiliki tujuan dan latar belakang yang jelas untuk ditampilkan dalam filmnya. Memang tidak ada porsi yang berlebihan untuk menggambarkan bagaimana seorang The Ancient One, sifat misterius tersebut yang menjadi daya tariknya disini dan itu mungkin adalah maksud dari Studionya sendiri untuk membuat tokoh The Ancient One seperti itu.
Mordo yang diperankan oleh Chiwetel Ejiofor sebenarnya memiliki peran sentral untuk film kedepan Dr. Strange, secara jika menurut refrensi komiknya, Mordo adalah musuh bebuyutan Dr. Strange yang melepaskan dormamu. Namun dalam film ini Mordo terlihat seperti Side Kick bahkan terkesan lemah jika dibandingkan dengan Dr. Strange, meskipun dirinya adalah salah satu murid lama yang belajar kepada The Ancient One ia sama sekali tidak pantas diperhitungkan jika masuk dalam hal pertarungan. Meskipun pada akhirnya Mordo menjadi seseorang yang lebih gelap, namun perubahan tersebut terlihat dipaksakan dan teralu mendadak pada akhir film, ia secara tiba-tiba tanpa alasan yang kuat memutuskan untuk membelot dari ajaran yang pernah ia terima dari The Ancient One tanpa mencari sebab-sebabnya terlebih dahulu.
Efek, dan Background Music
Dr. Strange adalah film yang memiliki efek paling wah, dan fantastis diantara semua film marvel yang keluar selama ini. Anda bisa pusing seperti orang yang baru memakai LSD, atau berdecak kagum ketika bangunan - bangunan pencakar langit berjatuhan atau terlipat begitu saja. Tema pertarungan dimana sang tokoh utama dan antagonis yang mampu mengendalikan ruang dan waktu, sangat teramat baik bisa di visualisasikan secara menakjubkan dalam film ini. Imajinasi terliar seolah-olah tumpah begitu saja dalam film Dr. Strange, dan berhasil meninggalkan kesan bahwa realitas tidak lagi berlaku bagi kami para Sorcerrer Supreme kepada para penontonnya. Efek yang ada dalam film “Dr. Strange” adalah sebuah nilai tambah yang pantas untuk diberikan.
Musiknya sendiri sangat cocok, apalagi ketika Dr. Strange dibawa kepetualangan LSDnya oleh The Ancient One, dimana anda akan terbawa suasana yang ada didalamnya. Musik yang ada dalam film ini bisa dibilang spot on atau sesuai dengan keadaannya, dan mampu menghidupkan suasana tersebut sehingga penonton bisa lebih terbawa suasana karenanya. Michael Giacchino patut diacungi jempol untuk bisa mengkomposisi lagu yang pas untuk film Dr. Strange. Uniknya lagi, jika saya perhatikan bahwa dalam film ini tidak ada lagu-lagu lawas atau mainstream yang bisa dibilang digunakan oleh beberapa film untuk mendongkrak penjualannya, namun tidak ada lagu seperti itu dalam Dr. Strange, selama saya melihat film ini hanya terdapat musik-musik orkestra dan instrumental saja dan hal itu semua bisa membangkitkan suasana yang ada dalam film ini.
Overall
Dr. Strange adalah film fantastis dan menyenangkan untuk bisa ditonton oleh semua kalangan. Ceritanya yang mudah diikuti dan karakter yang diperankan secara luar biasa oleh aktor dan aktris top membuat film ini hidup. Efek yang ada dalam film ini adalah ujung tombak yang membuat film ini layak untuk ditonton dan mampu menarik decak kagum para penontonnya, dan Marvel berhasil membuktikan bahwa mereka mampu memvisualisasikan kekuatan rumit secara menyenangkan kepada masyarakat luas. Musik yang ada dalam film ini mampu menghidupkan dan selaras dengan cerita yang berlangsung, dan membuktikan bahwa film superhero tidak perlu melulu membutuhkan musik mainstream atau lawas untuk dijadikan dongkrak di layar lebar jika filmnya itu sendiri memang mampu menjual dari segi lainnya.
Last Score : 7.65/10

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.