Header Ads

Breaking News
recent

"Alita: Battle Angel" Review dan Analisis: Cyborg Manis Yang Mematikan!



Ketika berbicara tentang sebuah film live-action, apalagi diangkat dari adaptasi sebuah manga yang terkenal, tidak jarang kita menemukan filmnya berakhir mengecewakan dan sudah menjadi sebuah stigma umum jika hollywood atau barat yang menanganinya banyak fans yang meragukan kualitas dari film tersebut. Sebut saja film live-action baru-baru ini yang ditangani oleh orang barat seperti Death Note 2017 dari Netflix, atau Ghost in the Shell yang tidak hanya mendapat respon negatif dari fansnya sendiri namun juga harus menerima kritikan pedas dari masyarakat luas dan keuntungan dari penjualan tiket filmnya berakhir mengecewakan. Setelahnya, tahun 2018 bisa dirasakan jika hollywood atau film produksi barat seolah menghindari untuk membuat film live-action dari anime atau manga yang mungkin untuk menghindari pandangan buruk masyarakat atau sisi penjualan yang ditakutkan tidak akan memenuhi target.

Tetapi ambisi untuk membuat film live-action dari adaptasi manga dan anime di Hollywood tidak benar-benar padam, pada awal tahun 2019 kita dihadirkan sebuah film live-action dari sebuah manga legendaris karya Yukito Kishiro yaitu Alita: Battle Angel, yang filmnya diproduseri dan ditulis oleh James Cameron (‘Titanic’ 1997, ‘Avatar’ 2009), dan disutradarai oleh Robert Rodriguez (‘From Dusk Till Dawn’ 1997, ‘Spy Kids’ 2001, ‘Sin City’ 2005), dan film ini merupakan film terakhir yang ditangani oleh 20th Century Fox sebelum jatuh ketangan Disney sepenuhnya. James Cameron sebenarnya ingin menangani film ini namun terhalang oleh proyek film sequel dari Avatar dan dirinya hanya bisa mengambil peran sebagai penulis script dan produser, sehingga pada akhirnya direksi untuk film ini diserahkan kepada Robert Rodriguez. Selain itu tadinya film ini akan mengambil judul yang sama dengan manganya yaitu Battle Angel Alita namun melalui masukan dari salah satu produsernya Jon Landau, James Cameron hanya memegang film dengan judul yang berawalan A atau T didepannya (The Terminator, Aliens, Titanic, The Abyss, True Lies, Avatar) oleh karenanya filmnya menyesuaikan dengan judul yang baru yaitu Alita: Battle Angel.

Trailernya sendiri pertama kali keluar pada 8 Desember 2017, dan membutuhkan sekitar 1 tahun untuk filmnya rilis ke masyarakat luas. Dalam trailer pertamanya tersebut kita ditunjukkan CGI yang tidak tanggung-tanggung untuk menghadirkan secara sekilas kemegahan kota langit Zalem, dan tentunya mengenalkan beberapa tokoh penting yaitu Hugo, Dr. Ido, dan Alita itu sendiri. Reaksi masyarakat ketika melihat tampilan Alita pertama kali bisa dibilang campur aduk, ada yang bilang animasinya teralu berlebihan dan matanya teralu besar, ada juga yang menyukainya.  Buat saya pribadi cukup menyukai animasi dan desain yang diperlihatkan, membuat karakternya memiliki karakteristik dari tokoh anime yang tidak sengaja dibuang begitu saja.

Sinopsis

Ceritanya mengambil tahun 2563, 300 tahun setelah bencana besar bernama “The Fall” yang diakibatkan karena peperangan besar antara Bumi melawan Mars yang berakhir memporak-porandakan bumi. Dr. Dyson Ido seorang ilmuwan spesialis cyborg sedang mencari suku cadang bekas di tempat pembuangan sampah tepat di bawah kota langit Zalem. Saat sedang asik mencari barang rongsokan di tempat itu, ia menemukan sebuah tubuh cyborg yang sudah separuh hancur namun masih memiliki otak manusia yang berfungsi dan hidup dalam sebuah kerangka mesin. Ido lalu membawa tubuh cyborg tersebut ke tempatnya untuk diperbaiki dan merekonstruksikan tubuhnya kembali. Cyborg itu pun sadar tanpa memori atau ingatan apapun tentang dirinya, kemudian Dr. Ido memberinya nama Alita dan memutuskan untuk mengadopsi cyborg tersebut untuk tinggal bersamanya.


Dr. Ido Menemukan Alita || 20th Century Fox
Alita yang seperti baru lahir kemudian mulai mengenal dan belajar banyak hal di kota Iron, tempat tinggal Dr. Ido saat itu, termasuk bertemu dengan Hugo seorang laki-laki muda yang memiliki impian untuk pindah dan tinggal di kota langit Zalem. Melalui Hugo, Alita diperlihatkan banyak tempat, mencoba coklat yang langsung menjadi makanan favoritnya, dan yang terpenting mengenal permainan olahraga populer dan berbahaya bernama Motorball yang hanya bisa di ikuti oleh para cyborg, sebuah balapan campur pertarungan ala Battle Royale yang kontestannya (disebut gladiator) akan menggunakan cara apapun termasuk kekerasan untuk merebut bola dari pesaing lainnya dan membawa bolanya sampai ke garis finish untuk memenangkan pertandingan yang hadiahnya utamanya berkesempatan untuk tinggal di Zalem.


Alita Menjelajahi Kota Iron || 20th Century Fox
Suatu hari Alita diperingati Dr. Ido agar tidak keluar saat larut malam, namun Alita yang curiga dan penasaran atas sikap misterius dari Ido membuat Alita mengikuti sang dokter menghiraukan peringatan sang dokter kepadanya. Tanpa diduga keduanya lalu disergap oleh trio cyborg pembunuh berantai yang haus darah dan dipimpin oleh cyborg besar bernama Grewishka.

Dari sana Alita mengetahui jika Ido berprofesi sebagai Hunter-Warrior sebagai pekerjaan sampingan setiap malam dan memburu para cyborg kriminal untuk ditukarkan dengan uang. Terpojok dan melihat Dr. Ido dalam bahaya, Alita kemudian ikut bertarung melawan ketiga cyborg tersebut menggunakan bela diri kuno bernama “Panzer Kunst” yang berhasil menghancurkan 2 cyborg yang menyergapnya sekaligus membuat pemimpinnya Grewishka terluka parah dan harus melarikan diri.


Alita dan Ido Disergap Oleh Sekelompok Penjahat Berbahaya || 20th Century Fox
Setelah kejadian tersebut, tidak hanya Alita yang dilarang oleh Dr. Ido untuk menjadi seorang Hunter-Warrior namun Alita juga menarik perhatian Vector yang melalui atasannya di Zalem yang misterius bernama Nova, menyuruh dirinya untuk membawa otak yang menjadi inti tubuh Alita. Vector kemudian menggunakan Grewishka dengan memberikannya tubuh dan senjata baru untuk menghadapi Alita, dan mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk mencapai misinya.

Alita yang terhitung baru lahir kembali ke dunia tidak hanya harus menemukan dan mengembangkan potensi dirinya saja, tetapi juga harus berhadapan dengan musuh-musuh tangguh yang kapan saja bisa mengancam orang-orang yang ia sayangi. Alita juga harus mencari ingatan akan jati dirinya, dan mengungkap rahasia apa yang tubuhnya sembunyikan sehingga banyak orang yang berambisi untuk mendapatkan rahasia tersebut.


20th Century Fox

Story

Cerita dalam film Alita: Battle Angel, fokus terhadap kehidupan Alita yang dipenuhi misteri mengenai masa lalunya, terutama peran dan keterkaitan dirinya dalam peperangan besar yang telah merubah kehidupan seluruh manusia di permukaan Bumi 300 tahun lalu. Materi filmnya bisa dibilang dibuat lebih sederhana dan pendek menyesuaikan dengan versi anime OVA dan manga-nya, dengan mengambil topik yang sama dari 12-chapter original manga Battle Angel Alita / GUNNM. Secara garis besar film live action Alita ini merupakan perpaduan cerita antara manga dan OVA-nya, namun tidak merubah atau menyimpang banyak dari materi originalnya. Karena adanya perpaduan antara kedua materi tersebut maka adanya perubahan pada beberapa bagian merupakan hal yang tidak bisa dihindari terutama penyesuaian terhadap beberapa karakternya di cerita dan dunia dalam filmnya dihadirkan tidak sebrutal atau “terbuka” seperti manga dan OVA-nya.

Kita akan lebih banyak fokus mengenai kehidupan Alita yang kehilangan ingatan akan siapa dirinya di masa lalu, dan bagaimana cyborg berwajah manis ini menghajar semua musuhnya menggunakan teknik bela diri kuno bernama “Panzer Kunst” yang koreografinya di eksekusi dengan sangat baik dalam filmnya, terutama tendangan saltonya yang sudah menjadi ciri khas Alita. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana filmnya juga bisa fokus terhadap hubungan romansa antara Alita dengan Hugo, anak laki-laki remaja yang memiliki impian untuk pergi dan tinggal di Zalem. Filmnya bisa saja membuang aspek romansa cinta antar remaja ini dan menjadikan Alita sebagai film yang penuh dengan action flick, namun saya bersyukur karena Cameron dan sutradaranya masih menghormati materi aslinya untuk menghadirkan cerita cinta dua sejoli ini menjadi salah satu topik utama filmnya.


Pesawat Tempur Mars || 20th Century Fox
Berserky Body || 20th Century Fox
Detail Berserker Body || 20th Century Fox
Film Alita tergolong straight forward dalam mengeksposisikan ceritanya, namun juga sempat menggunakan flashback sebagai bentuk eksposisi untuk menjelaskan konflik masa lalu antar dua dunia 300 tahun lalu yang juga melibatkan Alita di dalamnya. Sayangnya karena mungkin begitu banyak materi yang harus dimasukan ke dalam film dengan durasi 2 jam, banyak eksposisi yang pacingnya terasa teralu cepat dan maju ke adegan selanjutnya membuat filmnya meninggalkan beberapa cerita yang sedikit menggantung namun tetap konsisten pada fokus utamanya dan tidak kehilangan arah. Salah satu poin yang cukup menggantung adalah bagaimana nasib dari pihak Mars yang difilmnya dikenal sebagai URM (United Republic of Mars) sebagai faksi yang bertempur dengan bumi 300 tahun lalu dan menyebabkan bencana hebat di bumi yang bernama “The Fall”. Filmnya tidak memberikan jawaban jelas atau petunjuk mengenai latar belakang penyebab peperangan ini, dan bagaimana akhir dari pihak Mars itu sendiri, apakah hancur lebur atau lenyap begitu saja, dimana informasi ini hanya diketahui oleh Alita itu sendiri yang meskipun ingatannya kembali melalui beberapa flashback yang ada namun informasi tersebut tidak ada keterkaitannya akan akhir perang antar kedua belah kubu, atau besar kemungkinannya informasi ini akan diberi tahu pada film lanjutannya. Menurut saya sendiri akan lebih baik jika filmnya menghadirkan flashback cerita mengenai masa lalu Hugo, mengapa dirinya begitu ingin pergi ke Zalem dan motivasi dibelakangnya.


Kota Iron (1) || 20th Century Fox
Kota Iron (2) || 20th Century Fox

Kota Iron (3) || 20th Century Fox

Kota Iron (4) || 20th Century Fox

Setting dunia Alita mengambil tema cyberpunk, sebuah dystopia dimana masyarakatnya tinggal disekitar teknologi canggih yang mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari namun hidup dalam kondisi yang suram atau kumuh. Lalu bagaimana film-nya menampilkan dunia tersebut? Sayangnya film Alita: Battle Angel ini tidak bisa menghadirkan atau memiliki konsep cyberpunk sekental komiknya, meski bisa menghadirkan trademark kota Iron sebagai tempat pembuangan sampah kota Zalem yang juga dihadirkan dengan megah dengan bantuan CGI, ada beberapa bagian difilmnya yang menunjukkan kondisi bumi yang seolah tidak benar-benar hancur diantaranya terlihat banyak lahan-lahan untuk bercocok tanam dan yang benar-benar mengejutkan saya adalah terdapatnya hutan dan sungai juga danau besar disekitar kota tersebut. Berbeda jauh dengan komiknya yang hanya ada padang pasir nan gersang sepanjang mata memandang, seperti dunia yang ada di MadMax.

Selain itu budaya atau kondisi lingkungan yang ditinggali Alita difilmnya bisa dibilang jauh lebih beradab dan layak jika dibandingkan dengan komiknya, salah satunya yang paling mencolok pakaian dari tokoh-tokohnya yang cukup bersih dan stylish dari segi penampilan. Kota Iron baik dalam komik dan manga-nya merupakan kota yang masyarakatnya hidup dalam kondisi yang kurang layak dimana banyak darinya hidup dalam kemiskinan, pembunuhan terjadi dimana-mana, dan yang paling utama adalah pencurian dan penjualan organ tubuh manusia dan cyborg. Ya, baik dalam komik dan OVA-nya pencurian yang disertai dengan pembunuhan dan penjualan organ tubuh baik manusia atau cyborg merupakan topik yang sering disinggung, dan harus dihadapi Alita di kota Iron sehingga dirinya akan mengenal istilah Hunter Warrior, individu yang berprofesi untuk memburu pelanggar-pelanggar hukum untuk ditukarkan dengan uang. Hunter Warrior ini juga tentunya dimasukkan ke dalam film live action-nya, tentunya dengan fungsi dan tugas yang sama seperti pada materi aslinya. Namun filmnya sendiri tidak secara eksplisit menunjukkan pencurian dan penjualan organ yang dialami oleh manusia meskipun ada dan diperlihatkan pada awal film namun tidak ditunjukkan secara terang-terangan, dan filmnya lebih secara gamblang menunjukkan tindakan kriminal tersebut seolah hanya terjadi kepada cyborg saja.


Motorball || 20th Century Fox

Lalu filmnya tidak lupa memperkenalkan kita kepada pertarungan cyborg ala battle royale, yaitu Motor Ball, yang uniknya mendapat perhatian lebih disini berbanding terbalik dengan komik ataupun OVA-nya yang hanya memberikan sedikit materi dalam filmnya terkait permainan berbahaya satu ini. Filmnya menghadirkan pertandingan yang dimana kontestannya harus siap mempertaruhakan nyawanya untuk bisa menang dalam satu pertandingan bisa dihadirkan dengan suasana yang menantang dan seru. Meski memiliki pacing yang cepat, saya bisa mengikuti arah permainan dan tidak begitu sulit untuk memahami peraturan dan cara permainan satu ini. Pertarungan Motor Ball ini juga tidak mengalami perubahan yang signifikan, selain hanya dijadikan sebagai eksposisi semata untuk hubungan antara Alita dan Hugo, namun tidak mengurangi peran kunci dan seberapa penting permainan ini untuk Alita di masa depan.

Karakter

Gerhard bekerja sebagai asisten Dr. Ido || 20th Century Fox
Seperti yang saya sempat singgung sebelumnya, karakter dari film Alita: Battle Angel dihadirkan berdasarkan materi versi anime OVA-nya. Namun filmnya sendiri juga memiliki beberapa perubahan dalam peran dan fungsi karakternya, salah satu yang paling mencolok adalah tidak adanya Gonzu, asisten tua Dr. Ido yang memiliki batok kepala mesin ini diganti oleh tokoh bernama Gerhad yang diperankan oleh Idara Victor, yang sayangnya tidak memberikan dampak apapun atau memberikan peran yang signifikan sepanjang filmnya.


Ed Skrein sebagai Grewishka || 20th Century Fox
Lalu kita juga tidak akan bertemu dengan Clive Lee, seorang cyborg berdarah dingin yang sebenarnya memerankan tokoh vital di OVA-nya tidak akan hadir di film live action-nya. Tugas dirinya nanti akan digantikan oleh Zapan yang diperankan oleh Ed Skrein sebagai seorang cyborg anggota Hunter Warrior yang bermulut besar dan tentunya mengesalkan. Sebagai orang yang pernah memerankan sebagai salah satu tokoh penjahat dalam film Deadpool, Ed Skrien tidak begitu kesulitan dalam memerankan peran tokoh yang narsistik, sombong, dan juga berdarah dingin. Sebenarnya Zapan merupakan sekedar tokoh sampingan baik dalam manga atau OVA-nya, namun film live action-nya bisa menjadikan Zapan memiliki kontribusi dan dampak lebih banyak ke dalam filmnya, dan filmnya sendiri tidak lupa menampilkan tragedi yang menimpa Zapan nanti pada penghujung film sesuai dengan manga-nya. 


Jackie Earle Haley Sebagai Grewishka || 20th Century Fox
Untungnya filmnya juga menghadirkan Grewishka yang diperankan oleh, Jackie Earle Haley aktor yang dulu pernah memerankan Rorschach di ‘Watchmen (2009)’. Grewishka merupakan salah satu icon dalam film Alita karena dirinya lah yang membuat tubuh Alita hancur pertama kali dan harus membuat Alita mengganti tubuhnya dengan tubuh Berserker untuk mengalahkan cyborg yang satu ini. Meski perannya secara konteks sama dengan materi aslinya, namun yang saya sesali adalah akhir dari cyborg psikopat tidak memberikan klimaks yang saya harapkan. Pertarungannya dengan Alita di komiknya lebih memiliki arti simbolik dan mengesankan, sedangkan versi live-action-nya Grewishka berakhir seperti penjahat umum yang ujung-ujungnya akan kalah dan mati begitu saja pada saat berhadapan lagi dengan tokoh utamanya pada akhir film.


Jennifer Connely Sebagai Chiren || 20th Century Fox
Filmnya juga menghadirkan tokoh yang hanya muncul dalam film OVA-nya yaitu, Chiren, ilmuwan wanita yang ahli dalam bidang cyborg yang juga merupakan istri dari Dr. Ido. Chiren disini diperankan oleh Jennifer Connely yang masih menawan dan kecantikannya masih belum pudar sampai saat ini. Baik secara OVA atau live action-nya peran Chiren secara konteks sama, yaitu ingin kembali ke Zalem dengan mendekati Vector yang dimana melalui atasannya, Nova, Chrien dan Vector ditugaskan untuk mendapatkan tubuh Alita dengan memanfaatkan Cyborg bengis bertubuh besar bernama Grewishka yang melalui Chiren, Grewishka kemudian diperbaiki dan diperbaharui menjadi Cyborg yang jauh lebih berbahaya. Uniknya filmnya tidak sepenuhnya menghadirkan sosok Chiren sesuai dengan Ova-nya yang jauh lebih egois, licik, dan rela melakukan hal apapun untuk bisa kembali ke Zalem seperti salah satunya rela menjadi pelampiasan nafsu dari Vector, meski difilmnya ada adegan yang sepertinya terlihat keduanya memang memiliki hubungan yang khusus namun tidak secara eksplisit ditunjukkan. Chiren versi live action-nya sosoknya jauh lebih baik dan peduli, dan hubungannya dengan Ido lebih kental dan terlihat keduanya seperti masih menjalin komunikasi satu sama lain, namun karakternya juga masih bisa menunjukkan keinginan untuk mewujudkan ambisinya dengan segala cara, hal yang diperankan dengan sangat baik oleh Jennifer Connely.


Mahershala Ali sebagai Vector || 20th Century Fox

Mahershala Ali
juga turut mengisi peran dalam film ini, sebagai Vector, sosok yang memiliki kekuasaan cukup besar di Kota Iron, memegang kendali dibelakang layar atas Motorball, dan yang paling penting dirinya merupakan satu-satunya orang yang mampu mengirim orang-orang tertentu untuk bisa tinggal di Zalem. Ali bisa menampilkan karakter yang cukup berambisi, licik, dingin namun pada satu sisi dirinya bisa menampilkan emosi ketakutan dan patuh terhadap atasannya di Zalem meski dirinya orang yang terlihat sebagai orang yang tidak menerima perintah dari orang lain, dan harus saya akui Mahershala Ali bisa menghadirkan sosok Vector sesuai dengan apa yang ada di Manga-nya dan memerankan perannya dengan sangat baik. Saya rasa tidak ada perubahan yang signifikan terhadap karakternya, dan bisa dibilang ia dihadirkan sesuai dengan apa yang ada di materi aslinya baik manga atau anime-nya.


Christoph Waltz sebagai Dr. Ido || 20th Century Fox
Kita juga kedatangan salah satu aktor besar yaitu Christoph Waltz yang dirinya juga memerankan salah satu tokoh utamanya sebagai Dr. Dyson Ido. Untuk aktor sekelas Christoph Waltz, memerankan sebagai Ido, ilmuwan yang penuh rasa penasaran dan juga peduli dengan orang-orang dan cyborg disekitarnya bukanlah hal yang sulit. Tetapi jujur saja peran Christoph Waltz kali ini terlihat kurang bisa menampilkan potensi penuh dari aktor satu ini secara maksimal, dan peran dari Ido itu sendiri juga memiliki beberapa perubahan. Tidak hanya Namanya saja yang mengalami penyesuaian menjadi ke barat-baratan, namun latar belakang dan peran dr Ido itu sendiri juga memiliki beberapa perbedaan. 

Diantaranya yang paling mencolok adalah filmnya menambahkan latar belakang mengenai Ido jika dirinya dulu memiliki seorang putri bersama mantan istrinya Chiren, dimana peran mendiang putrinya ini memiliki dampak yang cukup penting bagi keduanya. Untuk Ido, melalui kenangan terhadap putrinya ini yang menjadi motivasi utama Ido untuk mau sangat peduli dan merawat Cyborg yang ia temukan di tempat rongsokan seperti anaknya sendiri, bahkan memberikannya nama seperti mendiang putrinya, Alita. Yang mendorong Chiren untuk menolong Alita juga kurang lebih sama dengan mantan suaminya, karena ia melihat Cyborg tersebut seperti anaknya sendiri, dan membuat dirinya menjadi sosok yang lebih simpatik terhadap Alita. Selain itu perubahan kecil lainnya adalah bukan Ido yang memiliki tubuh Berserker yang nanti menjadi peningkatan untuk Alita, melainkan Alita itu sendiri yang menemukan tubuh bertempurnya di bangkai kapal perang Mars.


Keean Johnson sebagai Hugo || 20th Century Fox
Karakter penting lainnya yang menjadi sorotan utama film ini adalah Hugo yang diperankan oleh aktor muda Keean Johnson. Berbeda dengan komiknya yang menampilkan Hugo setelah separuh jalan cerita, filmnya memperkenalkan Hugo pada awal-awal film, dan dari sini saya menyadari jika cerita filmnya secara garis besar akan mengikuti refrensi dari versi Anime OVA-nya. Bagaimana Keean memerankan tokohnya bisa dibilang tidak jelek dan juga tidak mengesankan, ada perasaan campur aduk ketika saya melihat tokohnya yang terlihat seperti anak remaja yang biasa saja. Filmnya tidak bisa menghadirkan Hugo sebagai sosok yang bisa menarik simpati penontonnya, atau memiliki motivasi yang kuat sejak awal film. Berbeda dengan komik dan OVA-nya, film live action Alita tidak menampilkan sebagaimana cerita dari Hugo itu seharusnya, bahkan penampilannya pun tidak terlihat lusuh dan justru terlihat bugar, berbeda jauh dengan apa yang digambarkan pada komik atau OVA-nya dimana Hugo benar-benar terlihat seperti gelandangan, kurus, kotor, dan terdapat luka pada tangan kirinya yang memiliki arti besar dalam hidupnya. Apa yang mendefinisikan karakter Hugo terletak dari kisah masa lalunya yang pahit dan kurang menyenangkan, membuat Hugo memiliki karakter dan ambisi yang kuat mengapa dirinya begitu ingin pergi ke Zalem. 

Sayangnya filmnya tidak menampilkan masa lalu tersebut, atau bahkan menyinggungnya dan justru lebih banyak menyorot hubungan romansa antara dirinya dengan Alita atau hal yang sebenarnya bisa disampingkan seperti motorball, dan motivasi atau alasan mengapa dirinya ingin pergi ke Zalem versi live-action-nya justru terkesan hambar. Pada versi komiknya, masa lalu tersebut dibangun dengan sangat baik dan mampu menarik simpati pembacanya, menjadikan Hugo sebagai simbol dimana mimpi dan harapan seorang anak manusia hilang digerus oleh kekejaman dan ketidak adilan dari kerasnya kota Iron. Meski ada adegan dalam filmnya yang membuat Hugo berakhir dengan nasib yang sama seperti di Komik ataupun OVA-nya yang dieksekusi dengan sangat baik oleh sang sutradara, namun menurut saya pribadi, jika saja film live­ action-nya bisa lebih serius mengembangkan karakter Hugo dan mengurangi jatah dari motorball dalam ceritanya saya rasa bisa membuat karakter Hugo lebih menarik dan memorable.


Rosa Salazar sebagai Alita || 20th Century Fox
Tentunya kita tidak melewatkan tokoh utamanya itu sendiri, yaitu Alita yang diperankan oleh Rosa Salazar, yang pernah tampil di 2 Film Mazerunner dan film Netflix pada tahun yang sama ‘Bird Box (2018)’. Mengikuti jejak yang sama seperti film James Cameron sebelumnya, Rosa disini juga bernasib sama seperti Zoe Saldana di film ‘Avatar (2009)’, dimana dirinya harus mengenakan seperangkat alat diseluruh wajah dan tubuhnya untuk melakukan motion capture disepanjang film. Sebenarnya filmnya bisa saja menampilkan Alita tanpa bantuan CGI dan desain karakternya bisa memiliki bentuk mata yang normal, namun James Cameron memiliki pandangan lain dan ingin karakternya masih memiliki kesan seperti karakter manga atau anime untuk menghormati budaya Jepang. Rosa memerankan karakter Alita dengan baik, meski umur dari aktris satu ini sudah memasuki usia 30-an, namun tidak menghalangi performanya dalam memerankan tokoh Alita yang masih tergolong remaja dan muda yang tentunya hal ini berkat polesan CGI yang apik. 


Romansa Alita dengan Hugo || 20th Century Fox
Rosa bisa menampilkan tokoh Alita yang periang, selalu ingin tahu, pemberani, sosok yang memiliki karisma, selalu bersimpati terhadap orang-orang yang sedang kesusahan, dan tentunya sebagai seorang anak remaja yang sedang kasmaran dengan pujaan hatinya. Selain itu secara karakter tidak banyak ada perubahan dalam Alita selain dirinya mendapat senjata baru berupa pedang Damascus yang ia gunakan untuk bertarung. Anda tidak perlu kaget jika ceritanya akan mengarah kepada hubungan romansa antar Alita dengan Hugo beranggapan karakternya kemudian terlihat cheesy, karena dalam komik-nya pun kelakuannya seperti ini terhadap Hugo, cinta buta. Tenang saja, filmnya tentu tidak menjejali kita sepenuhnya kisah romansa dari cyborg manis satu ini, ada beberapa momen dari materi aslinya yang juga diangkat ke dalam film, salah satunya adalah ketika Alita melawan Grewishka dan bagaimana dirinya menyelamatkan Hugo dengan metode yang bikin shock

Pertarungannya dengan Grewishka awalnya dihadirkan dengan mantap, dan tidak teralu di dramatisir seperti manganya yang justru terkesan dibuat emosional. Melalui pertarungan antar keduanya filmnya memang menampilkan bagaimana Alita kalah dan bangun kembali untuk mengalahkan musuhnya tanpa rasa takut dan memiliki kontribusi terhadap perkembangan karakter Alita. Biar memiliki kontribusi namun terasa hanya memberikan dampak sedikit saja pada Alita, seolah konfrontasi ini hanya sebagai batu pijakan agar Alita bisa mendapat tubuh Berserker-nya saja. Sudah begitu pertarungan akhir terlihat hambar dan berakhir begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang bisa membuat penontonnya terpukau, berbeda jauh dengan komiknya yang bisa membangun pertarungan keduanya dengan begitu simbolik dan emosional. 


Action Pack Alita: Battle Angel || 20th Century Fox
Filmnya juga secara acak menampilkan masa lalu Alita pada beberapa poin film, hal yang tidak dilakukan oleh anime atau manganya yang lebih fokus akan masalah yang dihadapi Alita dan karakter lainnya dalam kota Iron. Keputusan untuk juga menampilkan masa lalu Alita merupakan keputusan yang tepat, karena darinya bisa memberi gambaran dasar yang solid mengenai siapa sosok Alita kepada penonton baru yang belum pernah melihat Manga atau Anime-nya, dan mengapa dirinya begitu spesial juga memberikan kesan mengenai karakternya lebih dalam.

Kesimpulan

Alita: Battle Angel merupakan film adaptasi anime dan manga yang cukup menghormati materi aslinya meski tidak dipungkiri filmnya juga pada beberapa bagian juga harus menyesuaikan beberapa bagian. Meski begitu, penyesuaian tersebut buktinya tidak menghilangkan esensi dan tema utama dari dunia Alita. Anda bisa melihat jika film Alita: Battle Angel ini tidak di eksekusi dengan asal-asalan, dan ada keseriusan dan komitmen untuk menghadirkan salah satu tokoh manga terkenal ini untuk diangkat ke layar lebar melalui produsernya James Cameron, dan diarahkan dengan baik oleh sutradaranya Robert Rodriguez baik dalam sisi aksi atau sisi dramanya.


20th Century Fox
Pertarungan Alita pun juga di eksekusi dengan baik dan tidak melupakan trademark salto pamungkas dari sang cyborg dan bisa menangkap betapa gigihnya Alita ketika dia menghadapi musuh-musuhnya. filmnya juga mengambil langkah berani dengan mengenalkan motorball menjadi salah satu fokusnya dan bisa menjadi hal yang menarik untuk di ikuti dalam film. Sayangnya beberapa penampilan karakternya justru seperti kurang sesuai atau tidak pantas jika disandingkan dalam dunia tersebut, karena karakter seperti Hugo justru berbanding terbalik dengan karakter dalam baik dalam manga atau anime OVA-nya. Untuk segi aktingnya tidak perlu dipertanyakan lagi, ada banyak aktor/aktris veteran yang turut hadir dalam film Alita, dan mampu menghidupkan karakter-karakter tersebut dengan sangat baik.

Segi ceritanya Alita tidak sepenuhnya menjadikan film ini penuh dengan action flick, filmnya juga menyorot kehidupan masa lalu Alita dan hubungan romansanya dengan Hugo. Sepanjang film ceritanya tidak kehilangan arah dan bisa fokus pada eksekusi akhirnya, namun hal ini tidak berlaku pada beberapa karakternya seperti diantaranya Grewishka atau Dr. Ido yang momennya berakhir begitu saja atau tanpa memiliki akhir yang mengesankan dan tidak meninggalkan dampak yang signifikan pada akhir filmnya.


Alita (2019)


Reviewed By:

Alita menghadirkan film adaptasi yang jauh lebih baik jika dibandingkan film-film holywood adaptasi anime yang seringkali berakhir mengecewakan. Karakter yang memorable, cerita yang solid, dipadukan dengan CGI yang memanjakan mata, Alita (2019) mampu menghibur penontonnya baik dalam segi aksi yang seru dan cerita yang cukup sederhana.


Score:

7.6 out of 10

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.