Header Ads

Breaking News
recent

Review dan Analisis: 'Hereditary', Teror dan Kegilaan! (HEAVY SPOILER!)


Genre horor merupakan salah satu jenis favorit film untuk orang-orang dari sejak dulu, baik remaja atau orang dewasa akan menjadikan film horor sebagai salah satu film yang mereka tonton ramai-ramai dengan kerabat atau orang-orang terdekat mereka. Namun membangun hype untuk menarik agar orang-orang mau menontonnya merupakan sebuah tantangan tersendiri, dan Hereditary adalah salah satu film horor yang bisa dibilang cukup lama untuk membangun rasa penasaran dari masyarakat untuk menonton film ini.

Alasan saya bilang cukup lama karena trailernya sendiri keluar pertama kali pada tanggal 30 Januari 2018[1], dan ternyata sebelumnya film ini lebih dulu telah dipremierkan pada tanggal 21 Januari 2018 di festifal film Sundance[2], dan baru bisa dinikmati dibioskop Indonesia pada tanggal 27 Juni 2018. Bisa dilihat terdapat 5 bulan semenjak trailernya keluar agar masyarakat dunia bisa menikmati film horor ini, mungkin demi menghindari persaingan dari serbuan film-film mainstream.



Ari Aster, Sutradara 'Hereditary' | Via IndieWire
Hereditary merupakan debut film pertama dari sutradara Ari Aster yang dirilis secara internasional. Namun beberapa nama difilmnya mungkin tidak asing ditelinga anda karena pemeran utamanya diperankan oleh artis veteran, Toni Collete yang dulu pernah juga membintangi film horor buatan M. Night Shyamalan ‘The Sixth Sense’ (1999)[3], Gabriel Bryne yang juga pernah membintangi film klasik ‘The Usual Suspects’ (1995)[4], dan aktor muda Alex Wolff yang sempat membintangi film blockbuster ‘Jumanji: Welcome To The Jungle (2017)[5]. Pada jajaran kursi Produsernya, Lars Knudsen, orang yang memproduseri film ‘The Witch’ (2015) keluaran rumah produksi yang sama A24[6], Kevin Scott, produser dari film action ‘John Wick’ (2014) dan ‘John Wick 2’ (2017)[7], dan Buddy Patrick produser yang juga menangani film ‘Split’ (2016) dan ‘Hackshaw Ridge’ (2016)[8]. Selain itu Hereditary adalah film ke-4 dari studio A24 setelah ‘The Witch’ (2015), ‘Free Fire’ (2015), dan ‘It Comes At Night’ (2017) yang mendapatkan rilis secara global[9].


A D V E R T I S E M E N T


Sinopsis

Annie Graham, seorang miniaturist atau pembuat diorama yang juga merupakan seorang istri dan ibu dari 2 orang anak, membacakan sebuah memoar untuk pemakaman ibunya Ellen yang dihadiri oleh kerabat terdekat ibunya termasuk dari keluarga Annie yang terdiri dari suami Steve Graham yang berpofesi sebagai psikiatris, anak laki-laki sulung mereka Peter Graham yang berumur 16 tahun dan Charlie putri bungsu mereka yang berumur 13 tahun. 


A24
Pada memoar yang ditulis Annie untuk ibunya Ellen, ia mengaku bahwa hubungan dirinya dengan ibu kandungnya sendiri sudah tidak harmonis dan ibunya dari dulu tertutup dan penuh rahasia yang bahkan tidak dibagikan kepada keluarganya sendiri. Setelah pemakaman kehidupan keluarga Annie seperti terlihat normal, Annie kembali mengerjakan proyek miniaturnya, Steve kembali ke tempat praktek, Charlie dan Peter melanjutkan sekolah mereka. Tetapi tidak lama setelahnya kejadian-kejadian aneh mulai datang satu persatu kedalam keluarga Graham, dari mulai Annie melihat dan merasakan kehadiran sang ibu di ruangan kerjanya, dan Steve yang mendapat kabar dari tempat pemakaman bahwa kuburan mertuanya telah dijarah, dan berbagai kecelakaan dan tragedi yang dialami oleh setiap anggota keluarganya membuat  hubungan Annie dan keluarganya semakin memburuk, tidak hanya itu kejadian supernatural dan penampakan mulai membuat keluarga ini berada didalam bahaya.

Ellen | A24
Story

Pada 30 menit awal kita akan disuguhkan sedikit mengenai profil kehidupan Annie, dari kerenggangan hubungan antar dirinya dengan ibunya Ellen yang berdampak pada masa kecilnya yang berubah menjadi trauma bagi Annie, seolah membuat filmnya seperti memberi kesan sebagai film drama yang memiliki keterkaitan dengan tema psikologi dan gangguan mental. Namun, pelan tapi pasti, Hereditary yang sebelumnya terkesan seperti film kejiwaan mampu membawa ceritanya ke arah suasana yang semakin mistis dan terasa kental akan elemen supernatural. Seolah-olah filmnya itu sendiri dengan sabar menunggu untuk memberikan kejutan yang pas untuk membuat shock penontonnya. Bagaimana filmnya dalam mengantarkan ceritanya dan termasuk menggambarkan situasi yang dialami para karakternya dieksekusi dengan baik tanpa harus ada eksposisi yang berlebihan dan tidak terkesan terburu-buru. Dimulai dari misteri dan kejanggalan yang ditemui Annie dan keluarganya sepeninggal Ellen, ditambah apa yang sebenarnya meneror keluarga ini satu persatu mulai terbuka secara perlahan-lahan tanpa kehilangan ritmenya.

Hereditary mungkin bisa dibilang sebagai film horor yang berani untuk menampilkan dan fokus lebih berat ke dalam ceritanya, dibandingkan dengan film horor lainnya yang tujuannya hanya sekedar untuk bikin kaget. Filmnya mampu memberikan elemen seram tersebut dengan rapih dan dibangun dengan baik tanpa harus bergantung pada seberapa seram wajah setannya dibarengi dengan tempo musik yang secara konstan tiba-tiba meninggi ketika ada penampakan tertentu. Anda akan diberikan waktu bernafas adegan demi adegan untuk memproses apa yang baru saja terjadi, dan beberapa adegan ada yang sengaja dibuat tanpa ada suara dimana hanya ada karakternya saja menatap dan berjalan pada sudut kegelapan ditemani dengan keheningan yang panjang, dan ketika anda menyadari apa yang sedang menunggu dalam kegelapan tersebut anda akan merasakan perubahan suasananya menjadi jauh lebih angker dan merinding. Hal ini membuat semua elemen kaget atau yang biasa disebut jump scares pada Hereditary tidak terasa murah atau kacangan yang mudah dilupakan setelah keluar pintu bioskop.

A24
Skenario dalam mengenalkan karakter dan kepribadian mereka juga disuguhkan dengan baik melalui dialog cerdas antar pemainnya, semua memiliki tujuan dan agendanya masing-masing. Hal ini dikarenakan dalam Hereditary hanya mengenalkan tokoh-tokoh yang tergolong sedikit namun memiliki peran penting dalam perkembangan alur cerita, membuat filmnya bisa lebih fokus terhadap konflik dan misteri apa yang dihadapi oleh keluarga Graham. Misteri bisa dibilang juga memiliki unsur yang kuat disini, sutradaranya bisa menebar petunjuk demi petunjuk entah melalui percakapan atau adegan-adegan tertentu untuk membantu penonton bisa memahami filmnya. Cukup hanya melalui percakapan antar tokohnya saja anda bisa diberikan bayangan yang cukup jelas tanpa harus mengharapkan filmnya akan menambah sebuah adegan flashback yang berfungsi untuk memberikan sebuah bayangan visual. Namun sayangnya, Eri Aster, selaku sutradara memberikan eksposisi pada penghujung filmnya yang cukup klise digolongan film horor, yaitu tokoh utamanya Annie menemukan ‘jawaban’ untuk semua kejanggalan dan keanehan yang temui dalam hidupnya selama ini melalui barang-barang peninggalan ibunya, Ellen. Meskipun begitu suasana horor yang didalamnya tidak luntur sekaligus memiliki nuansa cerita yang cukup familiar dengan film horor klasik seperti Rosemary’s Baby (1968), dan The Omen (1976) yang bisa anda nikmati tanpa harus jenuh menontonnya, karena filmnya itu sendiri tidak berulang-ulang menggunakan teknik yang sama ketika meneror penontonnya, Hereditary setidaknya menghadirkan sesuatu yang cukup kreatif antara satu adegan dengan adegan lainnya.

Aktor/Aktris

Hereditary memang hanya diisi oleh sedikit aktor/aktris untuk memerankan peran-peran penting di dalamnya, diantaranya ada Toni Collete, Gabriel Byrne, Alex Wolff, Milly Shaphiro, dan Ann Dowd, namun tidak perlu kecewa karena para pemainnya memberikan performa yang luar biasa dan anda bisa melihat dedikasi di filmnya. Seperti Alex Wolff yang memerankan Peter Graham secara tidak sengaja benar-benar mematahkan hidungnya disalah satu adegan. Dalam interviewnya Alex mengaku bahwa ia sempat menawarkan ide gilanya kepada Eri untuk tidak menggunakan pengaman dalam bentuk apapun pada adegan dimana ia akan membenturkan kepalanya di meja, namun Eri menolak ide tersebut dengan penuh rasa hormat dan sebagai bentuk penghargaan atas komitmen Alex ia menawarkan meja yang sudah dilapisi bantal sebelum pengambilan gambar. Pada adegan tersebut mulai dilakukan, tanpa rasa curiga Alex langsung menghantamkan kepalanya sekeras yang ia bisa ke arah meja, hanya untuk mendapati bahwa tidak ada bantal atau sesuatu yang empuk yang dijanjikan dari Eri, hal ini membuat Alex mengucurkan darah dari hidung sampai ke lututnya[10].  Mengesampingkan cerita sampingan tersebut, karakter Alex Wolff disini lebih banyak memiliki emosi dalam memerankan karakternya dibandingkan dengan peran yang sempat ia lakukan di film ‘Jumanji: Welcome To The Jungle’ (2017). Alex mampu mempertahankan konsistensi karakternya di sepanjang film, dan bagaimana ia mengekspresikan bagaimana hubungan tokoh yang ia perani terhadap keluarga Graham bisa dibilang cukup mengesankan untuk aktor seumurannya. Dalam karakternya, Peter, Alex menampilkan tokoh remaja berusia 16 tahun yang setengah teler, suka pada salah satu gadis dalam satu kelasnya, dan berbagai pola prilaku yang umumnya ditemukan pada anak-anak remaja. Peter merupakan tokoh ke-2 paling waras disini, dan jauh lebih bisa diterima jika dibandingkan dengan adiknya yang tertutup, namun seperti Charlie, ia juga memiliki rahasia besar yang ia sembunyikan dari keluarganya sendiri.  

A24
A24
Tidak hanya Alex yang merupakan anak muda berbakat di Hereditary, Milly Shaphiro yang memerankan Charlie adik dari Peter juga merupakan salah satu aktris muda yang memerankan dengan baik karakternya. Melalui Milly, karakter Charlie Graham berhasil ditampilkan sebagai anak kecil yang pemalu, tertutup, gugup, dan melalui beberapa adegan kita juga bisa menilai bagaimana Charlie memang merupakan anak yang berbeda dengan anak seumurannya. Selain itu perbedaan dan keanehan yang ada dalam diri Charlie tidak secara sengaja ditutup-tutupi, jika seperti film kebanyakan dimana rahasia besar dari tokoh tersebut digunakan untuk menjadi elemen kejutan pada akhir film namun dalam Hereditary rahasia tersebut secara gamblang ditunjukkan  dari sejak awal film. Kehadiran sosok Charlie itu sendiri terasa familiar seperti melihat tokoh Damien dari film ‘The Omen’ (1976), memiliki aura yang gelap dan memiliki kesan seramnya tersendiri, sayangnya karena memiliki karakteristik yang mirip kita bisa menebak bahwa Charlie cepat atau lambat pasti akan menjadi sumber permasalahan dalam filmnya. Meski Milly/Charlie hanya mendapat sedikit bagian untuk tampil disepanjang film, untungnya tokohnya mampu diceritakan dengan baik dan lagi latar belakang dari karakternya mampu diarahkan sesuai apa yang ceritanya butuhkan, sehingga karakter ini masih relevan untuk disangkut pautkan pada ceritanya dan tetap mampu menjadi kejutan besar pada akhir film.


A24
Sekarang mari kita lihat para aktor seniornya, yang pertama adalah, Annie Graham/Leigh yang diperankan oleh Toni Collete. Hereditary bukan film horor satu-satunya yang pernah diperankan oleh Toni, ia juga pernah memerankan film horor yang juga kental akan suasana supernaturalnya seperti ‘The Sixth Sense’ (1999), atau ‘Krampus’ (2015). Sama seperti kedua film tersebut Toni Collete memberikan akting yang berkelas, dan di Hereditary Toni juga memberikan performa yang benar-benar total dalam memerankan seorang ibu yang mengalami tekanan stress dan kejiwaan yang semakin terguncang. Bagi saya peran Toni disini adalah peran terbaik yang diberikan disepanjang karirnya dan pantas untuk menempatkannya sebagai artis papan atas. Sebenarnya Toni Collete sendiri pernah bilang kepada agennya bahwa ia sudah tidak mau lagi memerankan karakter dalam film yang memiliki tema berat, atau gelap dan hanya mau menerima tawaran dari film yang bertajuk komedi ia sendiri bahkan tidak menyukai film seram, tetapi ketika ia membaca skrip dari film ini Toni sangat menyukainya dan tidak mampu untuk menolak kesempatan untuk terlibat dalam film Hereditary[11], keputusan yang sangat tepat bagi Toni karena di Hereditary karakter yang ia perankan benar-benar bersinar. Toni bisa menarik ekspresi yang cukup seram untuk karakternya, Annie, yang dimana kejiwaannya semakin lama semakin terganggu, dan ekspresi ketakutannya menjadikan wajahnya sebagai kandidat kuat untuk ikon horor di tahun 2018. Karakter Annie merupakan salah satu karakter seperti ibu di film ‘Babadook’ (2014) atau ‘Rosemary’s Baby’ (1968) dimana banyak tekanan dari segala arah yang mendorong karakter tersebut menjadi semakin paranoid, dan terguncang mentalnya. Banyak yang akan anda pelajari melalui perkataan yang diucapkan Annie terhadap orang-orang sekitarnya, termasuk akan rasa ketakutannya, apa yang membuatnya merasa bersalah, masa lalu yang meninggalkan trauma sampai ia dewasa. Selain itu apa yang Annie coba sampaikan juga tidak saja melalui kata-kata yang diucapkan namun melalui kepribadiannya, saya merasa bahwa terdapat beberapa adegan dimana kepribadian Annie bisa saja berubah sewaktu-waktu, kadang dia impulsif, persuasif, ke ibuan, bahkan penuh amarah yang siap meledak sewaktu-waktu.

A24
Lanjut kepada aktor senior lainnya, yaitu Gabriel Byrne, yang memerankan karakter suami dari Annie, Steve Graham, dan dia adalah salah satu aktor paling tua di film ini, bahkan jika disandingkan umurnya jauh lebih tua dari lawan mainnya Toni Collete yang lebih muda 22 tahun darinya. Gabriel disini juga memberikan penampilan yang maksimal dan meyakinkan sebagai seorang ayah yang mencoba untuk mendukung istri dan anak – anaknya dan merupakan tokoh yang selalu berpikiran dingin, tenang, dan selalu rasional terhadap segala kejanggalan yang terjadi didalam keluarganya. Steve merupakan karakter yang menyeimbangkan suasana dalam ceritanya ketika filmnya terjadi berbagai hal yang aneh.

A24
Banyak dialog dari karakter-karakternya memberikan gambaran jelas mengenai masa lalu mereka yang berkaitan dengan hubungan antar anggota keluarganya tanpa harus menggunakan adegan flashback, selain itu beberapa monolog dari Annie juga memberikan petunjuk-petunjuk penting apa yang terjadi dengan anggota keluarga sebelum ia menikah dan memiliki anak, dan masa depan apa yang akan menanti dengan keluarganya saat ini. Melihat interaksi dan berbagai emosi yang dikeluarkan oleh tokoh utamanya Annie juga memberikan banyak dugaan apakah ia memang gila sejak awal film atau mentalnya memang semakin terguncang sedikit demi sedikit. Filmnya juga membagi bagian-bagian yang pas mengenai apa yang karakternya lakukan, semua adegan memiliki tujuan dan maksud untuk setiap tokohnya, tidak ada adegan pengisi atau yang sengaja ditambah-tambahi untuk memperpanjang filmnya, seperti adegan komedi atau sebagainya tidak ditemukan disini (meski beberapa adegan mungkin secara tidak sengaja akan mengundang gelak tawa seperti yang saya alami di bioskop). Ceritanya memang tergolong sangat serius seolah menyuruh kita untuk tetap sibuk dan fokus dalam mengikuti ceritanya dan lebih bisa merasakan suasana yang semakin lama semakin mencekam.

Warisan

Sesuai dengan judul filmnya Hereditary / Warisan, kita disini akan dibawa mengenai kehidupan yang berputar dan fokus dari tokoh utamanya Annie dan apa yang ia warisi dari ibunya secara turun temurun. Lalu apa yang sebenarnya ia warisi disini? Petunjuk pertama film dapat ditemui pada awal film dimana Annie melakukan sesi sharing pada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang senasib dengan dirinya, ditinggalkan oleh orang terdekat. Disana Annie mengaku bahwa sejarah keluarganya memiliki penyakit kejiwaan, dimana ayahnya meninggal saat ia masih bayi karena mengalami depresi yang membuatnya menjadi gila dan mati karena kelaparan, kakak laki-lakinya mengidap skizofernia dan pada usia 16 tahun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dikamar ibunya sembari meninggalkan surat yang menuduh bahwa ibunya sendiri telah memasukan orang-orang kedalam kepalanya, dan tidak berhenti sampai disitu, Annie mengklaim bahwa ibunya Ellen memiliki kepribadian ganda / DID (Dissociative identity Disorder) sekaligus memiliki demensia juga selalu menekankan bahwa ibunya merupakan seseorang yang manipulatif. Pada adegan inilah ketakutan dan rahasia terbesar Annie muncul, ia khawatir akan mewarisi kondisi kejiwaan yang serupa dengan ibunya karena setiap anggota keluarganya yang telah meninggal pasti memiliki kondisi mental yang aneh. Mengarahkan kedalam sebuah pertanyaan, apakah Annie akan menjadi seperti ibunya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita bisa ambil beberapa petunjuk melalui monolog yang diberikan Annie. Melalui monolognya kita tahu bahwa Annie tidak memiliki masa kecil yang bahagia, dan menyalahkan ibunya atas kematian ayah dan kakak laki-lakinya di masa lalu. Akar pahit ini terus ia bawa sampai Annie menikah dan berkeluarga dengan Steve, meski tinggal 1 atap Annie yang saat itu sedang mengandung Peter selalu menghindari kontak apapun dengan Ellen atas saran Steve, dan meski pada akhirnya ia menyerah dan membiarkan ibunya mendekati anak perempuannya, Charlie, yang nantinya menjadi keputusan yang disesali oleh Annie. Biar kematian ibunya tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap hidup Annie, namun tragedi yang datang satu persatu terus menggerus kewarasan Annie hingga merubah dirinya menjadi orang yang paranoid, stress, dan memiliki emosi yang tidak stabil. Tetapi yang paling menarik adalah kondisi dimana Annie ternyata memiliki kebiasaan sleepwalking / tidur berjalan. Ketika berada dalam kondisi ini saya paham bahwa apa yang dilakukan Annie berada dilakukan diluar batas kendali dan berada dibawah alam kesadarannya, selain itu menemukan karakter yang tidur sambil berjalan / sleepwalking di sebuah film horor adalah hal yang cukup lumrah, dan karakter-karakter tersebut biasanya terdapat sebuah dorongan yang kuat entah itu memiliki keinginan terpendam atau memang ada sesuatu yang mengendalikannya. Biar pada nanti difilmnya diperlihatkan bahwa Annie memang dikendalikan oleh ‘sesuatu’, hal ini mengindikasikan Annie memiliki dua kepribadian yang selalu mencoba mengambil alih tubuhnya untuk melakukan hal-hal yang mengerikan saat dirinya tidak sadarkan diri.

A24
A24
Seperti yang saya bilang sebelumnya jika Hereditary memiliki tema berat dalam hal yang berbau psikologi, dan tidak heran jika “apa” yang diwariskan disini juga tidak jauh dengan masalah kejiwaan yang tentunya juga akan didapat oleh anak-anak Annie nantinya. Namun menariknya, yang saya dapatkan lagi disini adalah, bahwa Steve sampai akhir filmnya tidak terlihat jika kejiwaannya terganggu, ya mungkin dia beberapa kali mengalami guncangan namun sikapnya tidak berubah drastis seperti anak dan istrinya, dengan kata lain ‘warisan’ ini bisa jadi hanya didapat melalui garis keturunan darah, sedangkan Steve tidak mendapatkan masalah kejiwaan bukan semata karena dia merupakan ahli di bidang psikologi namun ia merupakan orang ‘luar’ dan tidak memiliki hubungan langsung dengan Ellen. Steve bisa dibilang orang yang memberikan reaksi paling rasional dan karena kegilaan atau keanehan yang terjadi didalam rumah tangganya sendiri mendorongnya menjadi sosok yang skeptis dan tidak percaya kepada istrinya sendiri. Ada beberapa adegan dimana ia memberikan respon yang lebih masuk akal dan cocok dengan karakternya, seperti menyarankan untuk menelpon polisi atau berencana untuk pergi dari rumah dengan membawa anaknya setelah segala sesuatunya berada diluar kontrol, tidak berlebihan, dan ia tidak seperti istrinya yang menjadi histeris atau panik ketika menghadapi kegilaan dan hal-hal tidak masuk akal yang terjadi disekitarnya.

Sayangnya nasib kedua anaknya tidak seberuntung dirinya, Peter dan Charlie juga memiliki kondisi mentalnya masing-masing. Untuk anak perempuannya Charlie, biar kehadirannya di film tergolong singkat, namun peran Charlie merupakan salah satu yang memberikan dampak terbesar difilmnya. Sebagai anak yang terlihat sebagai orang introvert dan tertutup hanya menjadi kulit luarnya saja dari keanehan yang anda akan temui disini. Charlie memiliki kepribadian yang kurang normal bagi anak seumurannya, contohnya saja ia memotong kepala burung untuk dijadikan sebagai bagian dari karya seninya, dan ditambah beberapa cerita yang lumayan seram dari ibunya mengenai Charlie sejak saat ia masih bayi. Ya, melalui cerita Annie, Charlie semenjak ia lahir dirinya tidak pernah menangis sedikitpun, dan merupakan anak yang diperbolehkan Annie untuk didekati oleh neneknya. Semenjak saat itu Charlie menjadi cucu kesayangan dan yang paling dekat ke neneknya, dan terlihat seperti satu-satunya orang yang merasa kehilangan ketika neneknya itu meninggal jika dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya. Kedekatan dengan sang neneknya juga terdengar tidak normal, saya sering melihat cucu dekat dengan kakek dan neneknya, namun tidak seperti Charlie dan Ellen, menurut Annie semenjak Charlie lahir neneknya (Ellen) tidak pernah melepaskan perhatiannya dari buah hatinya, dan tidak membiarkan Annie sebagai orang yang melahirkan Charlie untuk memberi makan / menyusui anaknya sendiri. Melihat kejanggalan demi kejanggalan yang diperlihatkan oleh pola tingkah Charlie, tidak aneh jika kepribadiannya ini merupakan hasil pengaruh sang nenek, dan lagi si nenek yang lebih mengharapkan jika Charlie itu terlahir sebagai anak laki-laki bahkan merajut namanya menjadi Charles di salah satu kerajinan kesetnya menjadi salah satu kejanggalan yang bisa ditemukan dalam filmnya.

A24
A24
A24
A24
Peter orang terakhir yang terlibat dari parade mengerikan ini dan mungkin satu-satunya orang yang mengalami kontak langsung dan paling sering diganggu dengan sosok tak kasat mata yang meneror keluarganya. Peter merupakan sesosok anak laki-laki remaja dan anak pertama dari pasangan Annie dan Steve, dan sosok yang jauh lebih normal jika dibandingkan dengan adiknya Charlie. Dari awal filmnya, kehidupan Peter merupakan kehidupan anak remaja yang normal, suka pada gadis sekelasnya, menghisap ganja bersama teman-temannya, atau pergi ke pesta teman sekolahnya. Namun dibalik itu semua, Peter juga memiliki latar belakang cerita yang juga tidak kalah suramnya, dan latar belakang ceritanya itu lebih mengarah ke bagaimana hubungan antara dirinya dengan sang ibu Annie, dan trauma apa yang menyebabkan dirinya seolah membatasi dirinya terhadap sang ibu. Penggambaran masa lalunya berbeda dengan karakter lainnya yang dimana lebih dominan digambarkan melalui interaksi antar karakternya, sedangkan Peter mendapatkan sedikit visualisasi apa yang terjadi diantara dirinya dengan sang ibu di masa lalu. Masa lalunya seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ibunya, Annie pernah ingin menyiram tiner pada saat Peter dan adiknya tidur sembari melihat sang ibu bersiap untuk menyulut mereka bertiga termasuk adiknya dengan korek api yang menyala merah ditangannya. Akibat dari kejadian tersebut membuat Peter menjaga jarak dengan ibunya, mengindikasikan bahwa kejadian itu merupakan sebuah trauma yang terus ia bawa sepanjang hidupnya. Trauma lainnya adalah saat dirinya mengalami kecelakaan mengerikan yang menyebabkan adiknya Charlie meninggal, merubah hidupnya menjadi orang yang tidak memiliki emosi yang stabil, delusional, melihat dan mendengar sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat atau dengar, juga seolah menyimpan rasa bersalah yang besar yang ia simpan sendiri dan membuatnya menjadi orang yang mengalami depresi atau tekanan yang berat.

A24
A24
A24
Selain kondisi mental yang diwarisi dari keluarga ini, namun ada hal lainnya yang juga diwarisi setiap karakternya, yaitu bakat akan seni. Buah memang jatuh tidak jatuh jauh dari pohonnya, dimana biasanya anak-anak akan memiliki keahlian seperti orang tuanya, dan seperti yang ada di Hereditary dari nenek, ibu, dan anak-anaknya memiliki hobi yang mereka tumpahkan dalam karya seni mereka masing-masing. Bagi Ellen, ia terlihat memiliki hobi menyulam seperti yang diperlihatkan pada barang peninggalannya yang berupa keset dengan rajutan nama-nama dari keluarganya. Annie memiliki ketrampilan sebagai seorang miniatur yang hobinya ini ia rangkap menjadi pekerjaan pada sebuah pameran yang akan datang tetapi sepanjang film Annie lebih fokus untuk mengerjakan miniatur diorama pribadinya yang lebih berkaitan dengan kejadian-kejadian yang terjadi dalam keluarganya. Untuk Charlie dari awal film ia sibuk dengan menggambar di sketsa bukunya dan membuat patung-patung aneh yang jika dibandingkan hobinya ini hampir sama dengan kerajinan yang dibuat oleh ibunya. Uniknya Peter ia sama sekali tidak menunjukkan bakat seni yang ia miliki, dan satu-satunya hobi yang ditunjukkan hanya dirinya beberapa kali sedang asik menghisap ganja, namun jika diperhatikan disudut ruangan kamarnya terdapat sebuah gitar menandakan bahwa dirinya juga memiliki jiwa seni seperti adik dan ibunya. Sedangkan Steve ia lagi-lagi menjadi orang yang berbeda diantara keluarganya, karena difilmnya ia sama sekali tidak memperlihatkan hobinya, bahkan tidak ada petunjuk sekecilpun saya temukan untuk mengetahui kesenian apa yang Steve miliki.

A24
A24
Dikebanyakan film tidak begitu banyak yang mengenalkan hobi dari karakternya, meskipun ada, namun hobi tersebut tidak teralu berpengaruh dalam ceritanya. Tetapi di Hereditary hobi dan kerajinan dari para karakternya bisa dibilang cukup memiliki pengaruh dan penting untuk dunianya, tidak sedikit pernak-pernik yang dibuat oleh tangan para tokohnya menjadi foreshadowing / pertanda tentang apa yang akan terjadi difilmnya nanti. Seperti Annie yang semakin terobsesi untuk membuat miniatur keluarganya, dan pada satu adegan ia tertangkap suaminya saat dirinya sedang membuat diorama mengenai kecelakaan mengerikan yang merenggut anak perempuannya dengan detail, termasuk kepala Charlie yang terpisah dari badannya, lalu beberapa adegan setelahnya pada saat mendekati akhir film, miniatur kepala dari diorama yang ia buat sebelumnya tiba-tiba menghilang entah kemana, menandakan bahwa kepala Charlie telah pindah ke suatu tempat. Berbicara tentang Charlie, karya tangan yang selalu ia bikin di sepanjang film juga bisa dijadikan sebagai representasi yang bisa di temukan keterkaitannya pada akhir film. Dari patung berhala yang ada di akhir film, dan patung-patung kecilnya yang dengan tekun ia buat tiba-tiba ditemukan di tempat yang tidak seharusnya, membuat Charlie seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi nanti.

A24
Setelah kejiwaan, jiwa seni, saya juga menemukan hal yang ternyata juga diwarisi oleh keluarga ini, yaitu hubungan antara anak dengan ibunya. Melalui curhat Annie, ia memang membenci dan sangat kecewa dengan ibunya sehingga membuat hubungan antar keduanya renggang sebagai seorang ibu dan anak, ironisnya kebencian ini ternyata juga diteruskan antara dirinya dengan anak pertamanya Peter. Jika Annie membenci ibunya karena ia menyalahkan sang bunda atas kematian ayah dan kakak laki-lakinya, Peter memiliki trauma besar kepada Annie ketika ibunya kedapatan mencoba membakarnya saat dia sedang tidur. Jika saya menjadi Peter hal itu akan menjadi kenangan buruk yang akan terus saya bawa seumur hidup, tentunya juga akan menjauhi orang itu dari kehidupan saya. Sayangnya yang dialami Peter dilakukan oleh ibunya sendiri, orang yang tidak bisa begitu saja ia jauhi atau lupakan. Untuk menambah kompleks hubungan antar keduanya, pada mimpi Annie ia bilang bahwa ia tidak mengakui Peter sebagai anaknya, dan tidak mau menjadi ibunya, dengan alasan bahwa dirinya ketakutan dan merasa bahwa dirinya bukanlah seorang ibu, Annie dalam mimpinya juga mengaku bahwa pada saat dirinya sedang mengandung Peter ia pernah mencoba menggugurkan anaknya tersebut beberapa kali namun tidak berhasil.

Detail

Hereditary merupakan film horror yang sangat memperhatikan detail bukan hanya dari segi cerita dan karakternya saja, namun aspek setting dan latar belakang tempatnya benar-benar sangat diperhatikan. Ketika saya melihat awal filmnya, saya merasa bahwa film ini pasti memiliki sinematografi yang luar biasa, dan itu terbukti benar, meski hanya memiliki tempat setting yang terbatas namun sutradaranya berhasil mengoptimalkan lokasi tersebut menjadi tempat yang pas untuk menebar terror disepanjang filmnya. Tempat utama dari film ini berlokasikan dirumah milik keluarga Graham yang berada di tengah hutan, dan perlu diakui bahwa rumah tersebut cukup besar dan memiliki cukup ruang untuk digunakan sebagai latar diberbagai adegan.

A24
A24
A24
A24
A24
Banyak shot yang saya nikmati ketika saya melihat Hereditary, entah itu berada dalam ruangan atau diluar ruangan keduanya memiliki latar yang diciptakan dengan sangat rapih dan mendetail. Terdapat keseimbangan dalam pengambilan gambarnya, dimana tidak teralu banyak mengambil adegan secara close-up, yang disatu sisi juga secara dominan banyak diisi oleh medium dan long-shot untuk kebanyakan adegan untuk menghasilkan berbagai prespektif yang mampu menangkap emosi sekaligus memperlihatkan lingkungan dan perubahan sekitarnya. Screenplay-nya mampu divisualisasikan dengan sangat mengagumkan, dimana Ari Aster yang membuat para karakternya seolah seperti boneka yang tidak bisa melawan nasib mereka karena dikontrol oleh kuasa yang lebih besar berhasil dieksekusi dengan baik[12]. Selain itu Hereditary juga melanjutkan tradisi A24 dalam produksi film horornya, seperti It Follows (2014) atau The Witch (2015) dimana ada orang telanjang yang berdiri dalam kegelapan sembari menatap dengan pandangan dinginnya yang membuat merinding.

A24
A24
A24
Bahkan detail untuk hal-hal kecil juga diperhatikan, seperti mobil yang dipakai Peter dan mengakibatkan anak perempuannya meninggal hilang setelah kecelakaan tersebut mengindikasikan bahwa mobil itu entah sudah dijual, dibuang, atau ditahan oleh polisi; Annie yang mendapatkan undangan seminar spiritual yang diselipkan melalui pintu di rumahnya yang kemudian undangan yang sama secara “kebetulan” juga ditemukan di rumah Joan; Pesta yang dihadiri Peter dan Charlie terdapat adegan dimana ada beberapa anak di dalam sebuah kamar sedang menonton film hitam putih di laptop yang menampilkan eksekusi berupa pemenggalan kepala menggunakan guillotine, secara diam-diam memberitahu kita bahwa di filmnya akan nanti jika beberapa karakternya akan kehilangan kepala mereka; beberapa kata asing juga ditemukan dan disorot pada rumah Annie, seperti “Satony”, “Liftoach Pandemonium”, dan “Zazas” yang salah satu dari kata kemungkinan digunakan sebagai ritual untuk memanggil “sesuatu”, ke-3 kata tersebut tentunya memiliki artinya sendiri seperti Satony yang terdengar seperti Satan atau setan, Zazas nama yang cukup umum terdengar untuk orang-orang yang pernah bermain papan Oija dimana terdapat sebuah fenomena jika anda menanyakan ‘nama’ dari sesuatu yang dipanggil maka jawaban yang diberikan berupa ZAZA atau ZOZO, Liftoach yang seperti pengejaan kasar dari bahasa ibrani / yahudi “לפתוח” yang berarti ‘buka’ sedangkan Pandemonium memiliki arti dalam bahasa inggris yaitu liar atau kecendrungan untuk berisik / gaduh dan memiliki kata demon di dalam kata-katanya yang berarti iblis atau setan [13]; dan momen kecil seperti botol cat Annie yang tiba-tiba saja jatuh sehingga Annie ingat untuk menghubungi Joan dan secara tidak sadar mengarahkan keluarganya ke dalam sebuah ritual mengerikan, semua detail tersebut ditampilkan dan dieksekusi dengan sangat baik dan mudah untuk disadari jika memperhatikan dengan seksama.

Ritual

Sebagian besar dan tujuan utama dari Hereditary merupakan sebuah rencana ritual untuk kepentingan sekte sesat ibunya Ellen untuk memanggil iblis yang mereka sembah yaitu Paimon. Dari Ars Goetia Paimon merupakan salah satu dari 9 raja iblis yang sangat setia dan loyal kepada Lucifer malaikat yang dibuang setelah membangkang terhadap Tuhannya. Paimon merupakan penguasa atas seni dan pengetahuan, dan penampilannya sering kali disebutkan seperti perempuan tetapi sebenarnya laki-laki[14]. Dalam Hereditary Paimon terlahir dengan tubuh perempuan yaitu Charlie, namun tubuh tersebut tidak sempurna atau bisa dibilang cacat yang ditunjukkan melalui alergi Charlie terhadap kacang, dan terciptalah skema besar untuk memindahkan Paimon ke tubuh laki-laki yang tidak memiliki kecacatan atau kekurangan seperti Peter. Paimon dalam Hereditary tidak memiliki bentuk fisik dan tidak diciptakan melalui bantuan efek untuk menciptakan sosok yang menyeramkan. Kehadiran Paimon bisa dibilang lebih untuk dirasakan ketimbang dilihat, kedatangannya sendiri difilmnya ditandai seperti ada cahaya putih yang muncul di beberapa adegan. Selain cahaya putih Hereditary mengambil refrensi tanda-tanda kedatangan Paimon lainnya yaitu melalui suara, arti nama Paimon itu sendiri yang jika diterjemahkan dengan bahasa kuno memiliki makna ‘suara gemericing’[15] dan di Hereditary suara gemerincing tersebut berupa suara klik lidah yang pada awalnya hanya dilakukan oleh Charlie tetapi semakin lama suara tersebut semakin terdengar meski Charlie satu-satunya orang yang memiliki kebiasaan ini sudah meninggal dimana artinya jika anda mendengar suara klik difilmnya berarti kehadiran Paimon telah mendekat atau sudah berada disana.

A24
A24
A24
A24
Menariknya bagaimana karakter melawan entitas supernatural yang mengancam keselamatan para anggota keluarganya ditampilkan menjadi sebuah nasib yang tidak bisa mereka ubah. Jika pada kebanyakan film terdapat aturan-aturan tertentu untuk melawan setannya, seperti misalnya menghancurkan objek yang menjadi tempat persemayamannya, atau menggagalkan ritual keji dari tokoh jahatnya, dan solusi paling favorit masyarakat luas yaitu dengan mengucapkan doa untuk mengusir iblisnya dan membuangnya ke neraka jahanam, semua itu tidak akan anda temukan dalam Hereditary. Tidak ada kuasa Tuhan atau keajaiban yang datang menolong keluarga ini, dan perjuangan yang dilakukan para tokohnya terutama Annie yang seolah dirinya tahu jika ada peraturan tertentu ternyata merupakan hal yang sia-sia belaka dan tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Peraturan ini di interpretasikan pada adegan ketika Annie pertama kali mencoba membakar buku gambar milik Charlie, ketika buku tersebut terbakar sedikit ujungnya secara tidak terduga tangan Annie juga tersulut api. Hal itu membuka 2 kemungkinan; yang pertama orang yang mencoba membakar buku tersebut akan ikut terbakar; kedua Annie yang bertanggung jawab memanggil 'arwah' Charlie menjadi terikat dengan buku tersebut dan jika buku itu terbakar maka dirinya juga terbakar. Untuk hal ini, Annie mengambil kemungkinan yang ke dua, ia berpikir bahwa dirinya telah terikat dengan buku tersebut dan siap mengorbankan nyawanya asalkan bisa menyelamatkan anak dan suaminya. Oleh sebabnya ia menyiram tiner/bensin ke buku tersebut dan menyuruh Steve untuk membakarnya di perapian tetapi Steve menolak ide tersebut dan lebih memilih untuk pergi sejauh mungkin dan memanggil polisi, Annie yang kesal merebut kembali buku dari tangan Steve dan langsung membuangnya ke dalam perapian, tetapi diluar dugaan bukan dirinyalah yang terbakar malah justru Steve yang terbakar sampai hangus. Dengan kata lain, kedua kemungkinan tersebut tidak berlaku, dan Annie yang mengira dirinya seolah tahu peraturan permainannya pada kenyataannya sama sekali tidak ada peraturan, semuanya terserah dan bergantung atas kehendak yang mengontrol mereka.

A24
A24
Yang menarik perhatian saya lainnya adalah patung yang ditunjukkan pada akhir film. Pada akhir filmnya patung untuk menyembah Paimon terbuat dari kepala Charlie yang ditempatkan diatas boneka mannequin, patung ini sendiri juga memiliki bentuk yang sama dengan minatur yang dibuat Charlie dimana sama-sama memiliki kepala dari makhluk hidup dan mengenakan mahkota. Selain detail kecil diatas perlu juga diperhatikan detail lainnya yang dimiliki oleh patung berhala ini, seperti posisi jari patung Paimon. Pada abad pertengahan semua lukisan Yesus tuhan dari umat nasrani memiliki gaya dan posisi dimana jari telunjuk dan jari tengah keluar sedangkan jari manis dan kelingking mengepal kedalam dan ibu jari sedikit tertekuk[16]. Patung Paimon disini meniru posisi Yesus tersebut, namun melakukan kebalikannya, dimana jika tangan kanan Yesus menunjuk keatas sedangkan Paimon menunjuk kebawah. Sejak jaman dahulu posisi ini di gambar-gambar Yesus sering diisyaratkan sebagai kehadiran Kristus, jadi seperti salib dibalik, Paimon menggunakan isyarat tangan tersebut untuk menghina Yesus. Patungnya Paimon juga mengenakan mahkota dan terdapat garis-garis yang seolah membentuk lingkaran yang menyerupai matahari. Pada kepercayaan nasrani Yesus sering disebutkan sebagai seorang gembala yang menuntun mereka kejalan kebenaran dan kekudusan[17], hal ini juga ditiru pada patung Paimon dimana tangan kiri patungnya juga memegang tongkat gembala yang memiliki simbol bahwa pengikutnya telah menyangkal Yesus dan melalui Paimonlah yang menjadi juru selamat mereka.

A24

A D V E R T I S E M E N T



Kesimpulan

Hereditary sejauh ini merupakan salah satu film terbaik yang keluar pada tahun 2018. Dari script, dan screenplay-nya mampu diarahkan dengan baik. Selain itu sinematografi juga pengambilan gambarnya berhasil dieksekusi dengan sangat menawan juga sangat memperhatikan detail dari segala aspek prespektif yang ada. Ceritanya menghadirkan naratif yang berani beda dengan film horor lainnya, dimana menghadirkan seberapa keras karakternya melawan merupakan hal yang sia-sia belaka, seperti boneka yang dimainkan oleh pemiliknya, nasib dan takdir bukanlah sesuatu yang bisa mereka tentukan sendiri namun tergantung atas kehendak yang berkuasa diatasnya. Hereditary yang merupakan film pertama Ari Aster yang di rilis secara global mampu membawa karirnya ke arah yang menjanjikan, ia selaku sutradara dan penulis dari film ini mampu meracik filmnya menjadi salah satu film terbaik yang keluar di tahun 2018.
Kelemahan yang ada di film ini terdapat eksposisi yang tergolong cukup umum digunakan oleh film-film horor kebanyakan, eksposisi ini meliputi bagaimana Annie mengetahui keterlibatan ibunya terhadap sekte tersebut melalui barang-barang peninggalannya. Namun eksposisi tersebut jauh lebih baik ketimbang memberi adegan flashback hitam putih atau semacamnya yang mungkin terdengar menarik tetapi akan membuang  screentime lebih banyak. Eksposisi ini meski hanya merupakan pandangan sekilas melalui buku, surat, dan album dari Ellen namun arti dan maksudnya bisa disampaikan dengan baik dan tidak memakan waktu lama alias singkat. Pengembangan karakternya digambarkan dan diperankan dengan baik oleh para pemainnya, ditambah dengan dialog atau monolog yang cukup informatif bisa membantu memberikan gambaran masa lalu dan perubahan sifat yang dialami oleh karakter-karakternya.


A24
Set yang menjadi background ceritanya tergolong detail, dan transisi demi transisi kameranya untuk mengambil adegan mampu dimaksimalkan dengan baik. Yang paling menonjol dari set yang ada di Hereditary adalah rumah milik keluarga Annie, tidak hanya tergolong luas namun area disekitar rumah itu yang kesannya jauh dari pemukiman dan memiliki halaman hutan yang lebat memiliki kesan otentiknya tersendiri. Selain itu saya bisa menemukan berbagai petunjuk yang berfungsi sebagai pertanda apa yang akan terjadi pada akhir filmnya, dan foreshadowing tersebut tidak hanya ditemukan pada rumah Annie saja, Ari Aster tidak sedikit menebar petunjuk-petunjuk tersebut melalui monolog atau berbagai properti yang ada dibeberapa adegannya.

Sebenarnya ada satu aspek lagi yang menjadikan film ini spesial, yaitu soundtrack-nya. Musik yang ada dalam film ini ditangani oleh seorang komposer sexophone terkenal bernama Colin Stetson. Melalui dirinya komposisi musik yang ada di Hereditary mampu membuat setiap adegannya menjadi lebih hidup, dan menegangkan. Colin bisa membuat melodi-melodi jahat yang cocok dengan suasana adegan demi adegan, yang mampu membuat duduk saya menjadi tidak nyaman karena suasana mencekam yang seolah-olah mendekat sesuai dengan perubahan melodi yang ada. 

Script dan screenplay yang diarahkan dan dieksekusi dengan tepat, komposisi soundtrack­­­­ yang pas, sinematografi yang mampu menghasilkan adegan-adegan yang mengesankan, dan akting yang sangat kuat dari para karakternya mampu membawa film ini unggul diantara film horor lainnya dan menjadikan film ini sebagai salah satu kandidat terkuat film terseram pada 2018. Melalui film ini membuktikan jika film horor bisa membawa cerita yang berkualitas dan bisa dinikmati tanpa harus selalu bergantung pada setan atau makhluk berwajah seram yang hobinya selalu mengagetkan penontonnya setiap beberapa menit sekali.


Hereditary (2018)


Reviewed By:

Teror, dan mencekam merupakan kata yang bisa menggambarkan film HEREDITARY yang pantas untuk disebut sebagai film horor terbaik 2018. Film ini membuktikan jika film bisa dibuat seram tanpa harus menyertakan jumpscare atau makeup hantu yang dibuat menyeramkan secara berlebihan. Cerita yang bisa membangun suasana Horor tersebut didukung dengan akting-akting terbaik para pemerannya, membuat film ini cukup memorable dan membuat orang penasaran dan ingin menontonnya kembali.



Score:

9.2 out of 10


Notes

  1. Hereditary | Official Trailer HD, by A24. Youtube. 30 Januari 2018.
  2. Sean P. Means, "A Horror Thriller Filmed in Utah is among additions to 2018 Sundance Film Festival Lineup". The Salt Lake Tribune. 19 Desember 2017.
  3. Toni Collete profile. IMDB.
  4. Gabriel Bryne profile. IMDB
  5. Alex Wolff profile. IMDB
  6. Lard Knudsen profile. IMDB.
  7. Kevin Scott profile. IMDB.
  8. Buddy Patrick profile. IMDB.
  9. Hereditary trivia. IMDB.
  10. Alex Wolff, Hereditary trivia. IMDB
  11. Toni Collete trivia. IMDB.
  12. Monica Castillo, "The Story behind 'Hereditary,' the Toni Collete horror movie that scared the bejesus out of Sundance". The Washington Post. 8 Juni.
  13. 60 Things You Missed In Hereditary (2018), By CZsWorld. Youtube. 11 Juni 2018.
  14. Lesser Key of Solomon. Wikipedia.
  15. Paimon. Wikipedia.
  16. Depicition of Jesus. Wikipedia.
  17. Good Shepherd. Wikipedia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.