Header Ads

"The Northman (2022)" Review dan Analisis (Spoiler!): Bukan Hamlet, Tapi Amleth!

Focus Features

Mitologi milik masyarakat Nordik tentu adalah budaya yang sering kali mendapatkan adaptasi ke dalam pop culture. Cukup banyak film-film atau game yang terinspirasi dari mitologi Nordik, seperti seri God of War yang saat ini mengambil tempat di Midgard tempat para dewa-dewi Nordik bersemayam, lalu ada juga Studio Marvel yang lewat film-film superheronya mempopulerkan karakter mitologi seperti Thor, Odin, Hella, dan Loki. Tahun 2022, kita kedatangan The Northman, film Viking yang digadang-gadang sebagai film yang menginspirasi William Shakespeare untuk menulis Hamlet. Disutradarai oleh Robert Eggers, seseorang yang cukup ahli ketika membuat film horor dengan nuansa folklore yang muram, seperti The Witch (2015), dan The Lighthouse (2019). Kali ini Eggers tidak sendiri, ia mengaet Sjon sebagai salah satu penulis script The Northman, Sjon sendiri adalah seorang novelis, dan penyair yang dikenalkan oleh Björk saat Eggers melakukan perjalanannya ke Islandia untuk mengumpulkan referensi The Northman, dan Sjon sendiri pernah menjadi co-writer­ di salah satu film produksi A24 berjudul “Lamb (2021)”.

Alexander Skarsgård (‘Godzilla vs. Kong (2021)’, ‘The Legend of Tarzan (2016)’, ‘Melancholia (2011)’) aktor yang berasal dari keluarga nyentrik (Skarsgård) kali ini menjadi pemeran utama untuk tokoh Amleth. Selain itu 2 orang aktor/aktris yang dulu sempat bermain di film Robert Eggers sebelumnya, yaitu Willem Dafoe (‘The Lighthouse (2019)’) memerankan Heimir, dan Anya Taylor-Joy (‘The WITCH (2015)’) sebagai Olga. Nama-nama yang mungkin tidak asing bagi anda juga hadir disini, diantaranya Ethan Hawke, Nicole Kidman, Claes Bang, Gustav Lindh, dan kembalinya penyanyi Björk ke dunia akting setelah absen lebih dari 20 tahun.

Robert Eggers juga kembali menggaet cinematographer Jarin Blaschke yang dulu juga pernah menangani 2 film Eggers sebelumnya. Untuk musik Eggers menyerahkannya kepada Robin Carolan, dan Sebastian Gainsborough.  Melalui trailernya kita disuguhkan aksi, drama, dan nuansa horor suram ala Eggers dengan bumbu budaya folklore Nordik yang sangat kental. Seperti apasih filmnya? Yuk, Simak Reviewnya!

SINOPSIS

(Dari Kiri) Amleth, Aurvandill, dan Gudrun - Focus Features

Amleth merupakan putra mahkota dari salah satu kerajaan Skandinavia jauh di utara samudra atlantik, Ayahnya Aurvandill adalah seorang raja yang dijuluki War-Raven yang berkuasa atas kerajaan bernama Hrafnsey, dan Ibunya, Ratu Gudrún, adalah seorang wanita berparas cantik nan anggun. Sang ayah pulang dari invasinya terhadap kerajaan lain, membawa jarahan, budak, dan kemenangan untuk kerajaan kecilnya, namun ia juga membawa luka yang membuat dirinya merasa bahwa waktunya tidak akan lama lagi. Tidak menghabiskan waktu lama raja Aurvandill mengajak putranya, Amleth, yang sudah menginjak usia 10 tahun tersebut untuk mengikuti sebuah ritual turun temurun, sang ibu, Gudrún, sempat keberatan karena menilai Amleth masih terlalu muda, namun mengijinkannya ketika dijelaskan oleh Aurvandill hal ini guna mempersiapkan Amleth sebagai putra mahkota yang sah untuk mewarisi kerajaannya ketika ia wafat nanti.

Fjolnir (Kiri) dan Aurvandill (Kanan) - Focus Features

Heimir, seorang jester/pelawak dan orang kepercayaan dari Aurvandill memimpin ritual antara bapak dan anak, untuk memvalidkan klaim tahta Amleth terhadap Aurvandill. Setelah melakukan ritual tersebut, takdir berkata lain kepada Amleth, paman angkatnya, Fjölnir, mengkudeta sang ayah dengan membawa pasukannya untuk membelot. 

Amleth Kabur Ke Lautan - Focus Features

Amleth yang berhasil kabur menyaksikan ayahnya dipenggal, kerajaannya dirampas, dan sang ibu direnggut oleh Fjölnir. Diatas perahu kecilnya ia menyebrangi lautan yang juga bergejolak seperti hatinya, disana ia bersumpah untuk membalaskan dendam ayahnya, menyelamatkan ibunya, dan membunuh Fjölnir.

I AM VENGEANCE!

The Northman merupakan film yang fokus utama ceritanya memperlihatkan bagaimana proses dari Amleth untuk membalaskan dendam kesumatnya terhadap paman angkatnya sendiri, Fjölnir. Sebelum membahas plotnya lebih jauh, kita harus tahu lebih dahulu sumber referensi apa yang menginspirasi dari film The Northman, yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas. Film ini mengambil kisah Amleth, legenda lokal dari Skandinavia yang menjadi salah satu cerita yang muncul di Gesta Danorum (Sejarah Danes) sebuah kumpulan tradisi yang disampaikan mulut ke mulut yang kemudian dikumpulkan, dan ditulis ke dalam buku tersebut oleh sejarahwan asal Denmark bernama Saxo Grammaticus. Mengambil tempat dan waktu pada abad 914 Masehi, film ini memperlihatkan awal-awal kependudukan dari Islandia yang juga dikenal sebagai “Landnamsold” yang memiliki arti jaman pengambilan tanah/wilayah, dan mulai masuknya ajaran Nasrani ke dalam wilayah tersebut, meski begitu unsur paganisme dan kepercayaan kuno dari orang-orang Viking pada era tersebut jauh lebih menonjol disini.

Amleth Dewasa - Focus Features

The Northman dengan segala sumber referensi dan secara konsep sebenarnya memiliki potensi untuk dibuat sebagai film flick dengan aksi peperangan sekala besar yang seru, karena mengapa tidak? Kita punya pangeran dengan segudang tragedi, mulai dari melihat ayahnya yang seorang raja dibunuh, terusir dari kerjaannya, ibunya ditawan. Bermodalkan ambisi, wajah tampan dan tubuh yang diberkati seperti patung-patung Michaelangelo, sang pangeran bertekad untuk menyelamatkan sang ibu, mengambil kembali kerajaannya, dan menemukan cinta sejati dalam perjalanannya, terdengar familiar? Melalui Gesta Danorum ini, William Shakespear, penulis kondang asal Inggris terinspirasi untuk menulis Hamlet, sebuah karya yang menceritakan tentang tragedi pangeran Denmark yang kemudian menjadi sumber inspirasi dari film-film modern yang terkenal, seperti Lion King, dan lagi Hamlet merupakan anagram dari Amleth (HAMLET AMLETH). Jika arah dari film ini dibuat ke arah mainstream mungkin saya akan mudah untuk skip, yang menjadikan film ini jauh lebih menarik adalah konsep yang dibangun oleh Robert Eggers yang terbiasa menangani film-film folklore bernuansa horor, yang juga menjadikan film The Northman sebagai film dengan nuansa autentik nordik yang mencekam.

Amleth dan Olga - Focus Features

Prespektif dari The Northman akan fokus terhadap Amleth, dengan alur yang progresif, dengan kata lain film ini tidak memiliki flashback, dan dalam penyampaian konteks penonton juga akan ditempatkan terhadap perahu yang sama dengan Amleth, dimana seiring cerita berjalan kita juga akan menemukan fakta-fakta baru dan tragedi yang terus bergulir sepanjang filmnya. Untuk menjalankan rencananya Amleth tidaklah sendirian, ia dibantu oleh Olga, seorang wanita yang turut dijual sebagai budak bersama dengan Amleth ke kediaman baru pamannya Fjölnir. Keduanya akan melakukan serangkaian teror mulai dari membunuh orang-orang Fjlonir secara diam-diam dengan cara yang bengis, hingga meracuni makanan dengan jamur sehingga mereka yang memakannya berhalusinasi. Dengan bertingkah polos dan bodoh, keduanya berhasil mengelabui orang-orang yang ada disana bahwa semua tindakan keji yang mereka lakukan adalah ulah roh jahat yang sedang haus darah.

Thorir (Tengah) Putra Sulung Fjolnir, Melihat Horor akan Karya Seni Amleth - Focus Features

BERBEDA

Melihat film-film sebelumnya, Robert Eggers, adalah salah satu sutradara top ketika membuat film-film horor. Meski jarang sekali menggunakan jumpscare atau menampakkan “setan”-nya, dirinya bisa membangun atmosfir horor dengan kejadian-kejadian supernatural yang dialami oleh karakter utamanya. Hanya saja kali ini Robert melakukan pendekatan yang berbeda, coba bayangkan anda melihat film slasher seperti The Scream namun prespektif dari pembunuhnya merupakan sudut pandang utama ceritanya, kita tahu bagaimana ia bersembunyi dan meneror korban-korbannya. Pendekatan tersebut diterapkan kepada Amleth, dimana ia ditegaskan dalam ceritanya akan menjadi si “setan” yang bertanggung jawab atas kejadian-kejadian janggal yang dialami oleh paman dan orang-orang yang tinggal bersamanya, yang tentunya dibantu juga oleh komplotannya, Olga. Filmnya juga memiliki plot twist meski bukan dijadikan senjata utama dalam plot ceritanya, anda bisa menebak akhir dari cerita Amleth itu sendiri jika anda memperhatikan ramalan-ramalah atau petuah yang Amleth dapat sepanjang filmnya.

BJÖRK, Sebagai Cenayang / Seeres - Focus Features

Robert Eggers yang biasanya selalu menjadikan kesan mistis sebagai hal yang selalu ia tinggalkan untuk tetap menjadi sebuah estetika misteri, kali ini ia mengambil batas realita dan meleburnya terhadap beberapa adegan mistis dalam filmnya sebagai sebuah perbandingan antara kejadian supernatural dengan kenyataan. Seperti diantaranya cairan yang diminum oleh Amleth dan bapaknya mungkin sudah di campur dengan cairan LSD atau semacamnya hingga melihat pengelihatan yang cukup ekstrem, pertarungan Amleth dengan semacam makhluk bernama draugr yang mungkin hanya terjadi dalam kepalanya saja, atau dirinya yang setengah halu dimana melihat Olga sebagai Odin dan Valkyrie yang datang untuk menyelamatkannya. Namun untuk digaris bawahi, bahwa tidak semua adegan mistis tersebut bisa memiliki relevansi dengan kondisi kenyataan, diantaranya adalah seperti peramal yang memberitahu akan nasib Amleth dimasa depan yang kemudian menjadi kenyataan pada akhir filmnya, atau pedangnya Draugr yang hanya bisa dilepaskan pada malam hari saja.

Draugr - Focus Features

Meski begitu, semua adegan supernatural ini dirancang dengan sequence yang begitu apik, menawan, dan juga bikin bulu kudu bergidik, seperti salah satunya Amleth memegang jeroan bapaknya ketika melakukan ritual, dua orang yang dimutilasi dan disalibkan ke tembok yang kemudian dibingkai menyerupai kuda Odin, Gleipnir, atau pendeta pagan yang dibunuh secara brutal di altarnya sendiri oleh Amleth, namun diantara itu semua mungkin yang paling membekas ada pada adegan dimana anak-anak kecil dan bayi-bayi dikumpulkan dalam satu rumah dan dibakar hidup-hidup. Selain itu pertarungan antara 2 orang ditengah-tengah gunung vulkanik yang sangat aktif merupakan salah satu sinematik terbaik di sepanjang film-film yang keluar ditahun 2022. Ditambah musik yang dibuat oleh Robin Carolan, dan Sebastian Gainsborough menambah unsur tegang dalam filmnya, terutama dengan melibatkan throat singer ke dalamnya, saya juga tidak bisa melupakan betapa epic-nya musik ala viking saat adegan berkendara dengan Valkyrie.

Pertarungan Di Tengah Gunung Vulkanik - Focus Features

Untuk pertama kalinya, ini adalah film Robert Eggers yang memiliki aksi lebih berat ketimbang 2 film sebelumnya. Pertarungan yang ada dalam The Northman terhitung tidak lebay dalam koreografinya, dan pengambilan gambarnya pun lebih menggunakan fixed camera dengan medium shot dimana latar belakang juga dilibatkan dalam pengambilan frame­-nya. Salah satu bagian aksi yang paling mengesankan dalam filmnya adalah pada bagian penyerangan desa saat amleth dikenal sebagai Bear-wolf dimana salah satu scene yang sempat populer di internet adalah ketika Amleth menangkap tombak dan melemparkannya balik. Sequence dari penyerangan desa ini hampir 90%nya one-shot tapi entah kenapa terdapat cut ketika Amleth melompat dari atas gerbang untuk menyerang musuhnya dari atas, besar kemungkinan karena resiko cidera dan harus dilakukan oleh stunt-man, padahal jika diteruskan adegan ini bisa lebih sempurna.

Focus Features

Focus Features

Focus Features

Focus Features

Untuk sinematografinya itu sendiri Jerin Blaschke, banyak menggunakan wide shot dan close-up untuk pengambilan gambarnya. Anda bisa melihat berbagai landscape alam seperti gunung berapi, lautan, sungai, pemukiman dengan sangat menawan, atau pengambilan gambar yang cukup spesifik seperti menunjukkan gerbang Valholl/Valhalla yang dibalut dengan konstalasi bintang dilangit dengan sangat mengagungkan. Anda bahkan bisa menggunakan salah satu tangkapan layar wide shot di film ini untuk dijadikan wallpaper komputer anda. Biar kebanyakan scene-nya yang berlatar belakang gelap karena minimnya cahaya matahari, namun anda tidak dibiarkan dengan kegelapan total seperti salah satu episode Game of Thrones. Cahaya yang disediakan terasa pas untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, memanfaatkan cahaya rembulan yang kontras dengan warna kebiruan muda yang ringan, langit yang mendung pasca masuk musim dingin, atau sumber pencahayaan dari api yang menyulut merah memanfaatkan bayangan untuk menambah kesan emosional dan suspense yang ada.

The Folks

Amleth, Sang Bear-wolf - Focus Features

Dalam filmnya, Amleth tumbuh menjadi seorang berserker dengan mengadopsi nama Bjornulfr, berserker itu sendiri adalah pasukan yang ditakuti karena kebrutalannya saat di medan perang, mereka akan melakukan ritual untuk melepaskan “daging” (yang di alegorikan sebagai kemanusiaan/hati nurani) dan seutuhnya menjadi binatang buas.  

Amleth, sang Berserker - Focus Features

Amleth dijuluki sebagai “Bear Wolf” oleh para kolega dan musuh-musuhnya, dikarenakan Amleth yang dikenal berdarah dingin namun perkasa layaknya seekor beruang. Alexander Skarsgård disini akhirnya memiliki peran yang cukup bersinar, dimana peran di film sebelumnya jauh lebih terlihat pasif jika dibandingkan perannya sebagai Amleth. Selain berhasil merubah tubuhnya hingga mencapai bentuk yang ideal selama 6 hari seminggu dalam rentang waktu hingga 6 bulan, Alexander berhasil membawakan karakter Amleth dengan memperlihatkan ekspresi tatapan dinginnya, matanya yang penuh amarah, dan suaranya yang penuh dengan dendam berhasil dieksekusi dengan penuh kharisma.

Nicole Kidman sebagai Gudrun - Focus Features

Gudrun, merupakan karakter ke-2 yang cukup mencuri perhatian saya disini, karena terdapat kejutan yang saya dapat dalam karakternya yang tidak saya duga. Nicole Kidman berhasil membawakan karakternya sebagai ratu yang anggun, cantik, beraura kuat meski dalam segi ekonomi yang pas-pasan, namun dibalik karakternya yang terlihat proudful hanya sebuah topeng untuk menutupi wataknya yang culas dan keji. Filmnya memberikan plot twist dalam karakternya yang tadinya seolah seperti damsel in distress menjadi b*tches in dress. Gudrun merupakan karakter yang menyampaikan pesan bahwa kalau udah sayang bisa bikin bodoh, Amleth yang selalu mengira keluarganya harmonis dan ibunya sayang kepada dirinya, ternyata memiliki kenyataan yang terbalik saat ia mengkonfrontasi kebenarannya.

Anya Taylor Joy, sebagai Olga - Focus Features

Williem Dafoe memiliki peran yang lebih singkat disini, namun jika soal karakter yang terlihat seperti seorang maniak dan tidak memiliki mental yang stabil adalah hal yang tidak perlu diragukan lagi, dia adalah pilihan yang tepat, hal ini diperlihatkan kembali ketika memerankan perannya sebagai Heimir seorang badut kerajaan dan sahabat dekat dari Aurvandil. Olga merupakan wanita yang dipertemukan pertama kali dengan Amleth diatas kapal untuk dijual sebagai salah satu budak, diperankan oleh Anya-Taylor Joy karakternya merupakan wanita kuat cukup ahli soal tanaman herbal dan cukup galak untuk para penindasnya, suatu hal yang diperlihatkan dengan baik oleh Anya disini. Selain itu Anya sebagai Olga bisa dengan mudah mencuri perhatian penontonnya disini, karena selain parasnya yang cantik dengan rambut pirangnya yang bisa membuat mata anda terpaku, Olga bukanlah karakter yang membosankan, selain pemberani dan pintar, karater Olga melengkapi Amleth untuk menjadi seorang pria dan belajar merasakan cinta untuk pertama kalinya, dan tanpa Olga, Amleth memenuhi takdirnya hingga akhir film.

Let it All Burn! - Focus Features

Telltale a Traditional Tale

Robert Eggers mengukuhkan namanya sebagai sutradara yang mampu mengusung cerita-cerita rakyat atau folklore menjadi sebuah film dengan kesan originalitas dan autentik yang tinggi. Bagi anda yang awam dari film-film Robert, dirinya merupakan sutradara yang menjadikan sebuah adegan 100% berdasarkan referensi yang ia ambil dengan sedikit bentuk penyesuaian. Seperti script dari film The Witch yang menggunakan dialog dari catatan-catatan lama, atau sebuah adegan dari The Lighthouse yang diambil dari lukisan berjudul “Hypnosis” tahun 1904 karya seorang pelukis Jerman, Sascha Schneider. Untuk mengentalkan kesan autentik dari film ini sendiri, Robert bahkan bekerja sama dengan para sejarahwan untuk melakukan riset dan berkonsultasi atas ceritanya untuk menyesuaikan sets film, kostum, dan semua properti yang ada dalam filmnya seasli mungkin.

Valkyrie - Focus Features

Man-Witch - Focus Features

Ritual Berserker - Focus Features

Melalui The Northman anda dibuat untuk mengenal lebih jauh budaya Viking, seperti Runes tentunya, berbagai dongeng-dongeng epik dari benua Eropa sana yang ikut disematkan, tidak ketinggalan kepercayaan Norse seperti Odin, ataupun Valkyrie yang juga turut hadir sebagai bentuk referensi dalam plot-nya, dan yang paling penting buat saya adalah tidak ada perubahan dari etnis tertentu agar filmnya terlihat “beragam”. Referensi tersebut akan langsung disajikan kepada anda sejak awal filmnya, dibuka dengan adegan 2 gagak terbang disaat kepulangan sang Raja Aurvandil (The Raven King’s), merupakan simbolisme dari Huginn dan Muninn, dua gagak milik dewa Odin (The Raven God) yang selalu muncul di legenda-legenda bangsa Normadic. Tidak berhenti disitu bahkan behel yang digunakan oleh Valkyrie disini adalah berdasarkan jenazah yang ada di salah satu kuburan Viking, serta helm yang memiliki dekorasi perunggu berbentuk angsa adalah berdasarkan mitologi Nordic dimana para Valkyrie selalu mengambil wujud sebagai angsa. Dukun yang menyimpan dan mengawetkan kepala Heimir adalah berdasarkan dongeng Mimir dan Odin, dimana Odin yang merupakan murid Mimir menghidupkan kembali kepala kedalam cairan cuka setelah sang guru dipenggal oleh musuh Odin yang sesama Aesir/Dewa. Berbicara tentang dukun yang satu ini, mungkin anda akan bertanya-tanya kenapa laki-laki tua gendut satu ini berpakaian, berdandan, dan mengepang rambutnya seperti wanita? Hal ini karena pada masuknya jaman besi di Skandinavia, sihir merupakan kegiatan dari perempuan dan menyebutkan penyihir pria merupakan ejekan atau sebutan untuk kaum homoseksual, dan berdasarkan legenda Odin, dewa tertinggi di Nordik menyamar sebagai wanita sehingga ia bisa belajar sihir dari para dewi-dewi.

Amleth Menangkap Tombak - Focus Features

Adegan Amleth menangkap tombak diambil dari Njals, sebuah saga epik dari abad pertengahan Islandia antara pahlawan Viking, Gunnar, melawan Audolf, ditambah jumlah rekannya yang sesama berserker berjumlah 12 orang (pemimpin ritual tidak dihitung) juga berdasarkan catatan sejarah dari Islandia. Lalu jika anda perhatikan lebih jauh setelah Amleth berhasil mengalahkan draugr (makhluk berupa mayat hidup seperti ghoul) ia meletakkan kepala dari draugr diantara selangkangannya (draugr), ini berdasarkan kepercayaan dari Islandia bahwa hal tersebut adalah salah satu cara untuk mencegah dari draugr untuk bisa bangkit lagi. Yang terakhir, Harald Fairhair dari Norway adalah orang yang melengserkan Fjölnir dan yang membuat dirinya terasingkan di daerah terpencil, dalam sejarah Islandia ia adalah orang yang bertanggung jawab karena mengusir banyak orang Skandinavia ke tempat-tempat pengasingan di Islandia karena bentuk pemerintahannya yang tirani. Kebanyakan orang Norwegia akhirnya memeluk agama Nasrani ketika sejarah itu ditulis, dan beberapa orang memilih untuk menyembah atau membentuk paganismenya masing-masing seperti Fjölnir yang ditunjukan dalam beberapa adegannya, seperti pemakaman anak sulungnya yang berdasarkan tulisan abad ke 10 milik penyair Ahamad Ibn Fadlan mengenai tradisi pemakan orang-orang Norwegia, dimana seorang perempuan juga akan turut dikorbankan untuk menemani tuannya di alam baka.

First Big (Budget) Movie

Kali ini Robert Eggers mendapatkan modal lebih yakni 70-90 Juta USD, hampir 9 kali lipat jika dibandingkan modal dari dua film sebelumnya (The Witch, dan The Lighthouse). Oleh sebabnya Robert merubah sedikit intonasi filmnya menjadi lebih lunak, dan tidak terlalu mengusung total misteri layaknya cerita Edgar Allan Poe ataupun H. P. Lovecraft. Robert juga tidak menjadikan filmnya terlalu vulgar, dimana awalnya ia ingin menampilkan para berserkers dengan telanjang bulat, termasuk duel final antara Amleth dan Fjölnir, namun ia urungkan niat tersebut akibat tidak di ijinkan dengan PH-nya karena batasan dari rating film-nya itu sendiri. Dilihat secara performa dibioskop, bisa dibilang film ini adalah flop mengesampingkan review positif dari berbagai situs, namun jumlah yang diperoleh di bioskop tidak balik modal produksi, hal yang sebenarnya dibantah oleh presiden dari PH Focus Features, Kiska Higgs, yang menyatakan bahwa filmnya sudah cukup menguntungkan lewat VOD dan media streaming.

Karena ini adalah film dengan budget besar pertamanya, The Northman, adalah film Robert Eggers yang tidak memiliki versi ‘final cut’ atau ‘director cut’, sebuah resiko yang Robert mau ambil demi bisa merealisasikan film ini. Ini dikarenakan oleh beban stress yang cukup berat untuk Robert Eggers, terutama menurutnya yang paling menguras tenaga ada pada saat memasuki bagian editing setelah post production untuk memenuhi mandat dan tuntutan perubahan oleh beberapa studio produksinya. Robert yang pada akhirnya merasa sangat puas pada hasil akhir The Northman, ia mengaku merasa kapok untuk menggarap film dengan budget yang besar, meskipun ia merasa tertantang untuk membuat film dengan budget yang lebih besar lagi, namun jika tidak memiliki kontrol penuh atas filmnya adalah satu hal yang paling sulit bagi dirinya untuk kembali. Dari interviewnya di NY Times, Eggers yang biasanya menerima masukan-masukan ringan dari produser atau investor filmnya, dirinya baru pertama kali merasakan tekanan hebat dari studio besar seperti New Regency setelah post production, dikarenakan test audience yang sulit mengerti filmnya. Mengenai perubahan yang beberapa studio minta selain untuk tidak menampilkan orang-orang untuk bertelanjang bulat, adalah seperti meminta untuk dimasukannya title card atau judul pembuka dibeberapa sequence untuk memudahkan penontonnya mengikuti alur bagian mana yang ada di plot ceritanya. Biarpun bukan hal yang biasa Robert lakukan di 2 film sebelumnya, ia mengaku bahwa tanpa masukan dari studio ia tidak mungkin bisa membuat film dengan versi yang paling “menghibur versi Robert Eggers”.

Kesimpulan

The Northman adalah memang film yang dikategorikan sebagai film versi Robert Eggers yang paling menghibur, meski perbedaannya cukup kontras dengan 2 film sebelumnya, saya rasa ini adalah hal yang positif untuk menjadi tantangan bagi Eggers untuk membuat film yang bisa mencakup target audiens yang lebih luas. Melihat film ini meninggalkan kesan yang sangat autentik, seperti Green Knight, ini adalah salah satu film medieval yang tidak dibuat untuk mencari untung, namun juga ingin meninggalkan kesan artistik sebagai sebuah film. Saya sangat menikmati film ini hingga awal sampai akhir, meski secara plot tidaklah seberat film-film Robert Eggers sebelumnya, saya tidak perlu berpikir keras untuk mengerti plot ceritanya.

The Northman (2022)

Reviewed By:

Sebagai sebuah film drama sejarah yang mengambil tema Viking, The Northman berhasil menjadi salah satu film sejarah era medieval terbaik. Robert Eggers memperlihatkan bahwa dirinya memiliki gaya direksi yang tidak perlu bergantung pada formula lama untuk membuat film yang bisa dinikmati orang-orang lain.


Score:

8 out of 10

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.